Zona Bahaya Hanya 10 Km, Piknik Akhir Tahun di Bali Masih Aman

Tanah Lot, Bali. (foto: vectorx2263/shutterstock)

INFONAWACITA.COM – Kepanikan erupsi Gunung Agung Bali berdampak pada kunjungan pariwisata Bali. Padahal nyatanya radius yang terdampak hanya 10 Km dari luas Bali yang mencapai 5.633 km².

Hal inipun dijelaskan Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar beberapa waktu lalu. “Jadi yang mau piknik akhir tahun ini di Bali dan sekitarnya masih aman, selama di luar radius 10 Km yang sudah kita tetapkan,” kata Rudy kepada pewarta di Gedung Kementerian ESDM pada Jumat (15/12).

Rudi juga memastikan jika semua dampak dari erupsi mulai dari banjir lahar dingin, gempa dan letusan hanya mencapai 10 KM dari wilayah Gunung. Bahkan untuk abu vulkanik pun ia memastikan hingga Maret nanti Abu vulkanik diprediksi hanya akan mengarah ke timur, mengingat arah mata angin yang akan cenderung ke Timur.

Sehingga dipastikan Bandara Ngurah Rai di Bali pun tidak akan terdampak dari abu vulkanik Gunung Agung.

Penurunan Sektor Pariwisata

Imbauan Rudy bukan tanpa sebab, sejak erupsi November lalu, pariwisata di Bali pun mengalami penurunan yang cukup drastis akibat dari erupsi Gunung Agung. Bahkan kata ‎General Manager PT Angkasa Pura I Bandar Udara (Bandara) I Gusti Ngurah Rai, Yanus Suprayogi menjelaskan, penurunan ini mencapai 50 persen.

“Sejauh ini perkembangan Bandara Ngurah Rai kita tahu bersama, penumpang itu turun sekitar 40-50 persen. Dari 60 ribu penumpang tinggal tersisa 30-40 ribu penumpang,” ucap Yanus di Kuta, Bali, seperti dikutip dari Liputan6.com pada Rabu (13/12).

Akibatnya, sejumlah lokasi unggulan pariwisata di Bali pun mengalami kerugian. Salah satunya Tanah Lot yang juga mengalami penurunan kunjungan hingga 30 persen.

Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wiryastuti menjelaskan jika setiap tahun, pendapatan dari pariwisata di Tanah Lot mencapai Rp 140 miliar per tahun, maka dengan penurunan 30 persen, berarti kerugian pemerintah sekitar Rp 42 miliar.

“Kerugiannya tinggal potong saja dari pendapatan wisata di Tanah Lot Rp 140 miliar per tahun, kurangi 30 persen penurunan kunjungan ke Tanah Lot, ya segitu kerugiannya,” Eka menerangkan seperti dikutip dari Liputan6.com pada Rabu (6/12).

Berita Hoax

Kecemasan wisatawan terutama wisatawan asing tidak lain karena banyaknya berita hoax dan berlebihan di negaranya terkait kondisi Gunung Agung.

Akibat kepanikan berlebih tersebut akhirnya Presiden Joko Widodo pun secara resmi mencabut status tanggap darurat Gunung Agung, Bali. Status tanggap darurat yang disematkan pada Gunung Agung sendiri sebenarnya hanyalah proses administrasi belaka. Pun pada nyatanya, hanya 10 KM dari kaki Gunung wilayah yang terdampak letusan.

Masalahnya kata Kepala Pusat Data dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, ternyata bagi sebagian pihak yang belum paham pengelolaan bencana, pengertian tanggap darurat atau darurat adalah keadaan yan menunjukkan terjadinya krisis, chaos, genting dan tidak nyaman.

Ia mencontohkan kata darurat dengan pengertian tersebut seperti status darurat sipil atau darurat militer. Bagi negara-negara asing yang jarang terjadi bencana, yang dipikirkan dengan penggunaan kata tanggap darurat sama halnya bermakna terjadinya kondisi genting dan akan dapat membahayakan warganya jika berkunjung ke Bali.

“Pemahaman yang salah seolah-olah Bali tidak aman akibat awas dan erupsi Gunung Agung itu banyak terjadi di masyarakat luar. Informasi yang berlebihan dan hoax yang bermunculan menyebabkan beberapa negara mengeluarkan travel warning,” kata Sutopo seperti dikutip dari Viva.co.id pada Sabtu (23/12).(DS)