Tongkat Pinjaman Hantar Lexy Kristianto ke Pencapaian Tertinggi

Lexy Kristianto pemain putra terbaik Kejurnas Hoki Atlet hoki asal Kalimantan Timur Lexy Kristianto berfoto usai mengikuti Kejuaraan Nasional Hoki Lapangan Antar-Provinsi Piala Presiden 2017. (Foto: ANTARA/Michael Siahaan).

INFONAWACITA.COM – Manusia adalah gudang cerita. Salah satunya kisah hidup pemain putra terbaik Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Hoki Lapangan Antar-Provinsi Piala Presiden 2017. Namanya, Lexy Kristianto.

Tak pernah ada yang menyangka. Dibalik pencapaian Lexy saat ini, ia merintis karir di cabang olahraga itu penuh dengan keprihatinan.

“Berbekal sebuah tongkat pinjaman, awalnya saya pinjam punya teman,” cerita Lexy sembari tertawa, seperti dikutip dari Antara pada Senin (25/12).

Meski pinjaman, tongkat tersebut justru menjadi medium semangat bagi Lexy. Ia tak pernah melunturkan semangat untuk berlatih. Hingga akhirnya, mengantarkan dirinya memenangi kejuaraan hoki tingkat provinsi di daerah asalnya, Kalimantan Timur.

Dari keberhasilan awalnya itu, Lexy berpisah dengan tongkat pinjaman. Ia akhirnya mampu membeli tongkat pribadi pertamanya seharga Rp1 Juta.

“Tongkat itu saya pakai bertanding di pra-PON tahun 2015. Saya beli sendiri setelah menang kejuaraan hoki indoor provinsi. Harganya Rp1 juta,” tutur anak dari pasangan Petrus Paserang dan Yohana ini.

Tapi Lexy tak pernah melupakan tongkat bersejarah itu. Ia mengaku sudah tidak lagi menggunakan tongkat pertamanya tersebut.

“Saya jadikan pajangan untuk kenang-kenangan,” tutur Lexy, memulai kiprahnya di hoki lapangan sejak menempuh pendidikan di SMKN 19 Samarinda, Kaltim.

Tongkat Bukan Satu-satunya Tantangan

Tongkat bukan satu-satunya tantangan utama. Khususnya bagi atlet kelahiran 13 Desember 1992 tersebut dalam mengembangkan bakatnya di hoki. Sebab ia dan para peminat olahraga hoki lapangan di Kaltim, justru menghadapi kendala lebih besar. Sebut saja soal minimnya fasilitas arena berlatih yang sesuai standar.

Hingga saat ini, di Kaltim hanya terdapat satu arena hoki lapangan. Hanya ada di Stadion Madya Sempaja, warisan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII pada 2008 silam. Itupun, permukaan lapangan masih menggunakan rumput. Bukannya karpet berstandar internasional.

“Kalau latihan permainan biasanya di stadion itu. Tapi latihan teknik biasanya di lintasan atletik yang permukannya mirip arena hoki lapangan standar internasional,” tutur Lexy.

Perjuangan pemain yang berposisi sebagai bek tengah ini tak sia-sia. Berkat latihan keras, dia dipanggil bertanding. Baik di tingkat provinsi maupun nasional. Baik untuk hoki lapangan atau dalam ruangan (indoor).

Lexy juga membela Kaltim di PON XIX Jawa Barat pada 2016 yang berbuah medali emas. Setelah itu dia sempat dipanggil ke tim nasional Indonesia untuk Kejuaraan Hoki Piala Tun Abdul Razak di Malaysia. Digelar akhir November 2017.

Terakhir, dia membantu tim putra Kaltim menjuarai Kejurnas Hoki Lapangan Antar-Provinsi Piala Presiden 2017. Sembari menyabet gelar pemain putra terbaik di kompetisi yang digelar pada 9-19 Desember 2017 tersebut.

Mimpi Tim Nasional

Ketua pelaksana kejurnas hoki itu, Ardi Poeloengan menyebut, ada beberapa aspek yang dinilai. Khususnya agar seorang pemain dapat dinobatkan sebagai yang terbaik.

Selain gol, atlet terunggul itu harus memiliki kemampuan teknik individu yang baik. Serta kehadirannya berpengaruh positif terhadap performa tim.

“Dia bisa membawa tim menjadi lebih baik,” ujar Ardi, yang juga anggota bidang organisasi PP FHI.

Kini, Lexy memiliki target untuk bisa masuk ke tim nasional hoki lapangan Indonesia. Terutama untuk Asian Games 2018 yang digelar di Tanah Air. Terutama setelah dirinya tidak dipanggil bahkan untuk seleksi timnas SEA Games 2017.

Ini pekerjaan tak mudah. Sebab, sebelum menjadi satu dari 18 pemain timnas putra yang dibawa ke Asian Games 2018, dia harus bersaing. Terutama dengan 30 nama yang akan dipanggil Pengurus Pusat Federasi Hockey Indonesia (FHI) untuk mengikuti seleksi.

“Mimpi saya adalah bisa membela timnas. Membawa nama harum Indonesia di dunia. Untuk jangka panjang, saya mau membawa Kalimantan Timur juara PON 2020,” tutur dia.