Tim Cyber Crime Polda Metro Jaya Tangkap Pelaku Teror Bom DAAI-TV

INFONAWACITA.COM – Tim Subdit Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Metro Jaya berhasil membekuk WH (24), pelaku teror bom terhadap stasiun televisi swasta DAAI-TV.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan WH ditangkap di kediamannya di Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, Rabu (4/1) kemarin sekitar pukul 20.00 WIB.

Dalam penggerebekan itu, kata Argo Yuwono, polisi mengamankan dua barang bukti berupa tablet dan telepon seluler yang didalamnya berisi akun email dan akun facebook WH.

“Pelaku teror bom berinisial WH (24) diamankan Tim gabungan Direskrimsus Polda Metro Jaya bersama  penyidik Polsek Penjaringan Jakarta Utara di Sumatera Utara, kemarin malam,” kata Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Kamis (5/1).

Sebelum melakukan teror bom, kata Argo Yuwono, WH mengirim pertemanan melalui akun facebook miliknya yang bernama Andrew ke group fanpage DAAI-TV, Senin (2/1) lalu.

Setelah bergabung WH lalu memposting ancaman teror bom di Kantor DAAI-TV. “Pelaku memposting pesan, I LOVE ISIS, sekitar pukul 12.50 WIB, kami akan beri kejutan di 5 titik di Gedung DAAI-TV. Berselang beberapa menit pelaku kembali memposting tulisan bom akan meledak,” kata Argo Yuwono.

Dari hasil penyelidikan Tim Cyber Crime Polda Metro Jaya terhadap akun facebook bernama Andrew, kata Argo Yuwono, diketahui pelaku teror berada di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.

Menurut Argo Yuwono, dari penyelidikan itu diketahui akun yang sama pernah dipakai meneror stasiun televisi swasta Trans7, 2015 lalu.

“Ternyata akun yang digunakan pelaku, sebelumnya juga melakukan teror bom kepada stasiun televisi swasta Trans7, 31 Oktober 2015 lalu. Saat itu,  dari akun memposting pesan, awas bom penyuntingan film cepat dihentikan,” kata Argo Yuwono.

Dari pemeriksaan awal, kata Argo Yuwono, kepolisian mendapat bukti cukup untuk menetapkan WH (24) sebagai tersangka pelaku penyebar ancaman kekerasan melalui dokumen elektronik.

“WH (24) disangkakan melanggar Pasal 27 ayat (4) atau Pasal 29 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) Jo Pasal 336 KUHP, dengan ancaman pidana 6 tahun hukuman penjara dan denda paling banyak Rp 1 miliar,” kata Argo Yuwono. (GR/AK)