Temukan Prototipe Alat Bantu Baru Bagi Tunanetra, Remaja Zaman Now Ini Bikin Bangga

Prototipe kacamata cerdas bagi tunanetra oleh dua siswa SMPN I Jetis. (Foto: detik.com/Charolin Pebrianti).

INFONAWACITA.COM – Siapa bilang remaja masa kini tak memiliki prestasi? Buktinya, dua siswa SMPN I Jetis ini. Mereka adalah Galang Nurbudi Utomo (15) dan Akhmal Sulton Fatuloh (14).

Keduanya berhasil membuat inovasi. Kali ini inovasinya membuat kacamata cerdas pembantu tunanetra. Tidak tanggung-tanggung, inovasi mereka menggunakan sensor ultrasonik dan indikator suara sebagai penunjuk arah.

Siswa kelas IX ini bahkan berhasil meraih juara dua tingkat nasional. Mengalahkan 375 peserta lainnya. Karya mereka yaitu kacamata itu dinilai lebih praktis dan efisien. Daripada alat bantu tongkat.

“Kalau tongkat ketemu objek, tidak tahu kemana,” tutur Galang Nurbudi Utomo.

Menurutnya, alat ini lebih efisien dan praktis. Penderita tunanetra tidak perlu lagi bantuan orang lain saat beraktivitas.

Misalnya, saat berjalan ada benda atau orang di sebelah penderita tunanetra, maka kacamata yang dipakai akan mengeluarkan narasi yang terhubung ke headset yang dipakai.

“Jadi cara pakainya kacamata dipakai disambung ke power bank dan dipakai headset. Nanti kalau ada objek di sekitar penderita tunanetra, ada warning dari headset,” jelasnya.

Galang Nurbudi Utomo (15) dan Akhmal Sulton Fatuloh (14). Dua siswa SMPN I Jetis yang berhasil menemukan prototipe kacamata cerdas untuk membantu tunanetra. (Foto: detik.com/Charolin Pebrianti).
Murah, Meriah, Cepat dan Berguna

Galang pun menambahkan alat-alat yang dipakai. Mulai dari sensor, ultrasonic 3 buah. Alat ini untuk mendeteksi objek mengeluarkan gelombang. Lalu micro controler arduino sebagai pusat pengendali yang kemudian diteruskan ke DF Player yang disambungkan ke power bank sebagai daya. Kemudian ada pula Micro SD, berisi suara perintah. Terakhir speaker yang ditaruh ditelinga pengguna.

“Peralatan semua beli secara online. Menghabiskan dana Rp250 ribu,” terangnya.

Galang juga menjelaskan, saat membuat alat ini, ia menemui kesulitan saat pemrograman. Khususnya program itu sering error jika jarak terlalu dekat.

“Jarak 1,5 meter dari obyek baru ada narasi,” imbuhnya.

Sementara itu guru pembimbing keduanya, Dwi Sujatmiko menambahkan, untuk membuat alat ini dibutuhkan waktu selama 3 bulan.

“Pernah diujicobakan ke penderita tunanetra. Katanya sangat membantu,” pungkasnya, seperti dikutip dari detik.com pada Senin (08/01).