Tekan Laju Penambahan Narapidana, Menkumham Usulkan Hal Ini

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly berbincang dengan warga binaan Lapas Klas II A Banceuy Bandung yang terbakar, Jawa Barat, Sabtu (23/4). Selain meninjau kondisi bangunan yang terbakar, Menkumham berbincang dan mendengarkan keluhan para warga binaan mengenai kasus awal terbakarnya Lapas Banceuy. ANTARA FOTO/Agus Bebeng/foc/16.

INFONAWACITA.COM – Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Yasonna Laoly menyatakan bahwa alternatif pemidanaan dapat mengurangi arus penambahan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) maupun Rumah Tahanan (Rutan).

“Dengan adanya RUU KUHP ini merupakan angin segar bagi Kemenkumham. Kami berharap paradigma pemidanaan mengedepankan alternatif pidana di luar penjara sehingga arus penambahan narapidana di Lapas dan Rutan bisa berkurang,” kata Yasonna di gedung Kementerian Hukum dan HAM, Jakarta, Kamis (19/4/2018).

Hal tersebut dikatakannya saat menjadi pembicara kunci dalam “Seminar Nasional Pembimbing Kemasyarakatan dan Pidana Alternatif” Ikatan Pembimbing Kemasyarakatan Indonesia (IPKEMINDO).

Baca Juga: Ombudsman Sidak, Temukan Kekurangan Pelayanan di Lapas Ini

Dengan berkurangnya hunian di Lapas maupun Rutan, kata Yasonna, maka pemenuhan hak-hak narapidana dapat lebih optimal.

“Dengan kondisi hunian yang ideal pemenuhan hak-hak narapidana dapat lebih optimal, program pembinaannya dapat lebih optimal, pelayanan kesehatan yang lebih baik serta penyelewengan dapat diminimalisir,” ungkap Yasonna.

Kelebihan Kapasitas

Ia pun mencontohkan terkait salah satu kondisi Lapas di Kalimantan Selatan yang kapasitas berlebihan sampai 300 persen.

“Beberapa waktu lalu saya pergi ke Kalimantan Selatan kondisi Lapasnya hampir over kapasitas 300 persen. Belum masuk ke dalam tempat itu saya sudah, panas, pengap, apek, pesing,” ujar Yasonna.

Baca Juga: 60 persen Penghuni Lapas di Jawa Timur, Narapidana Kasus Narkoba

Ia pun menyatakan jika menjalani satu hari di Lapas yang kapasitas berlebih seperti berada di “neraka”.

“Kalau di Malaysia sehari seperti lima hari lebih enak dari kita, makan enak, ruang masih ada. Kalau di kita itu betul-betul neraka, jadi kalau kita hukum dia tiga tahun melewati tiga tahun itu sama dengan tiga kali lima, 15 tahun neraka betul. Tidur gantian, ada yang tidur lipat kaki,” ungkap Yasonna.

Ia pun kembali mencontohkan kondisi Lapas di negara lain seperti di Belanda dan Norwegia.

“Kalau kita berkaca ke Belanda, Norwegia, Lapasnya itu pakai televisi pakai kasur empuk, seperti hotel kelas tiga tetapi itu kosong, padahal tempatnya sudah begitu baik. Karena kejahatan itu adalah produk sosial bukan produk biologis semata,” tutur Yasonna. (ANT/HG)