Tebus Dosa Masa Lalunya, Dari Memburu Kini Ilyas Menangkar Buruannya

Kura-kura Tuntong. (Foto: detik.com/Datuk Haris).

INFONAWACITA.COM – Masa lalu Ilyas tak jauh dari kura-kura tuntong. Ia kerap menjadikan binatang langka itu sebagai buruannya. Ilyas di masa lalu memang merupakan pemburu kura-kura tuntong. Kini semuanya telah ia tinggalkan. Bahkan kini dirinya menangkar binatang yang dulu ia buru ini.

Kesadaran itu muncul setelah dia merasakan semakin langkanya populasi tuntong. Dia kini bahkan menjadi pegiat konservasi tuntong di daerahnya.

“Saya terakhir mencari (berburu) telur tuntong pada 2008,” katanya beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari detik.com pada Selasa (19/12).

Menurutnya, reptil ini dulu mudah dijumpai di sepanjang muara sungai Seruway, Bendahara dan Banda Mulia di Aceh Tamiang. Maraknya perburuan akhirnya membuat spesies tersebut semakin sulit ditemukan di lokasi tersebut.

Kura-kura Tuntong

Tuntong merupakan satwa jinak dan mudah ditemukan keberadaannya di alam karena hanya menetap di satu lokasi. Mereka baru akan berpindah dan menghilangkan jejak, manakala merasa terancam dan diburu. Keberadaan mereka pun semakin sulit dideteksi, apabila tidak betul-betul dicari.

Maka untuk menebus dosa masa lalunya itu, Ilyas merogoh kocek untuk membeli sekitar 100 telur tuntong dari pemburu. Ia mengembangbiakkan sendiri reptil tersebut. Selanjutnya dilepasliarkan di habitat alam. Tapi kemudian, saat itu, usahanya gagal karena pengetahuannya masih minim.

Ilyas kemudian menetaskan telur-telur itu secara alami di penangkaran di pinggir pantai. Tapi kemudian, saat itu ia tidak mempertimbangkan perbedaan suhu. Sehingga tidak ada sebutir telur pun menetas menjadi bayi alias tukik tuntong.

Suhu pasir di pinggir pantai umumnya lebih tinggi daripada di muara sungai. Sementara muara sungai merupakan habitat alam dari kura-kura tuntong. Ini yang menyebabkan kematian embrio.

Walaupun gagal mengembangbiakkan, pria berusia 36 tahun ini terus mencoba melestarikan tuntong laut. Dia sering membeli satwa langka tersebut dari para nelayan untuk ditangkarkan. Terakhir dia membeli sebanyak 12 tuntong dari nelayan di Kecamatan Bendahara. Setelah ditangkarkan, semua tuntong tersebut dilepasliarkan pada 2015.

“Saya juga sering membeli anak maupun indukan tuntong yang terjerat jaring nelayan,” akunya.

Kura-kura Tuntong. (Foto: detik.com/Datuk Haris).
Penangkaran Kura-kura Tuntong

Tidak terlalu sulit bagi Ilyas untuk memelihara tuntong di penangkaran. Ia hanya harus menyediakan pakan dan itu sebenarnya yang membutuhkan biaya cukup besar.

Untuk itu, ia harus menyiapkan anggaran sebesar Rp20 Ribu sehari. Semua hanya untuk kebutuhan pakan bagi tiga tuntong.

Pakan berupa buah pepaya tersebut diberikan sebanyak dua hingga tiga kali sehari. Ilyas kembali merogoh kocek pribadi untuk membeli pakan. Juga biaya operasional penangkaran tuntong.

“Saya juga selalu mengingatkan para nelayan, agar melepas kembali tuntong yang terjaring atau tersangkut di pancing mereka. Begitu pula kepada para pemburu. Saya meminta untuk tidak lagi mencari telur tuntong secara terus-menerus,” kata mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang ini.