Sekjen DPD FPI Akui Bendera Merah Putih Bergambar Kaligrafi, Tapi…

liputan6.com

INFONAWACITA.COM – Sekjen Dewan Syuro DPD Front Pembela Islam (FPI) Jakarta, Novel Bamukmin membenarkan ada pengibaran Bendera Merah Putih bertulis kaligrafi Arab dan gambar pedang bersilang dalam aksi FPI ke Mabes Polri, Senin (16/1) lalu.

Menurut Novel, bendera itu dikibarkan seorang pemuda yang ikut aksi FPI tapi pemuda itu tidak mengenakan atribut FPI seperti baju koko serta kopiah. “Benar kalau saat aksi 161 itu, ada pengibaran Bendera Merah Putih (bertulis kaligrafi Arab). Pengibarnya anak ‘ABG’ , dan saat itu saya yang amanin,” kata Novel saat dikonfirmasi, Kamis (19/1).

Namun, kata Novel, pelaku pengibar bendera itu bukan anggota FPI dan dicurigai sebagai penyusup yang hendak memprovokasi dan mendiskreditkan perjuangan FPI. Novel mendesak Polri segera mengusut dan menangkap pelaku pengibar Bendera Merah Putih bertulis kaligrafi Arab dan bergambar pedang bersilang itu.

“Itu kami curiga penyusup, provokasi untuk menghasut, mendiskreditkan perjuangan kami. Saya jelaskan tidak ada lambang bendera seperti itu, kami  punya lambang sendiri, punya bendera sendiri. Kalau kita bawa Bendera Merah Putih, itu mesti murni Bendera Merah Putih, enggak dicoret-coret. Kami minta itu diusut dan pelakunya ditangkap,” kata Novel.

Sebelumnya, Kepala Polri Jenderal Pol Tito Karnavian memerintahkan jajarannya mengusut pelaku pengibar Bendera Merah Putih bertulis kaligrafi Arab dan bergambar pedang bersilang yang ada dalam video yang viral di media sosial (medsos). Diduga bendera itu dibawa massa Front Pembela Islam (FPI) saat berunjuk rasa ke Mabes Polri, Senin (16/1) lalu.

Tito meminta agar pelaku kooperatif dan sportif mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kesakralan Bendera Negara Indonesia, kata Tito, sudah diatur dalam Undang Undang Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

“Pada Pasal 24 poin d disebutkan setiap orang dilarang mencetak, menyulam, dan menulis huruf, angka, gambar atau tanda lain dan memasang lencana atau benda apapun pada Bendera Negara,” kata Tito. (GR/AK)