Sejuknya Bhineka Tunggal Ika Berembus dari Desa Wayame

Peletakan Batu Pertama Monumen Toleransi Wayame, Jumat, 17/11/2017. (Foto: dok.. GMKI).

INFONAWACITA.COM – Di tengah deraan isu intoleransi saat ini di masyarakat, kesejukan Bhineka Tunggal Ika hadir dari Desa Wayame, Ambon. Ini tentu saja menggugah International Interfaith Dialogue (IID) GMKI untuk menyerap lagi toleransi antarumat beragama.

“Kami mendengar bahwa desa Wayame merupakan desa yang tidak terkena kontaminasi dari konflik tahun 1999. Sampai sekarang, keharmonisan umat beragama tetap terjaga dengan baik. Kita perlu belajar banyak dari masyarakat Wayame,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat GMKI, Sahat Martin Philip Sinurat saat menyampaikan maksud kunjungan tersebut di hadapan pengurus Masjid Darul Na’im, peserta IID dan penduduk desa Wayame, seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima Senin (20/11/2017).

Bukan hanya sekedar sambutan hangat, aura toleransi yang kental juga membuat Sahat dan para peserta IID merasa tergetar.

“Kami dari Pengurus Pusat GMKI dan rombongan, belajar banyak dari pengalaman yang dilakukan warga Wayame. Keharmonisan masyarakat Wayame yang dapat menghadapi tantangan konflik, dapat menjadi contoh bagi warga lainnya di Indonesia, bahkan dunia,” ungkap Sahat.

Di ujung acara, alumni program magister Studi Pembangunan ITB ini menyatakan pentingnya masyarakat di kota lain seluruh Indonesia, menyontoh warga Wayame merawat keharmonisan antarumat beragamanya.

“Wayame sangat tepat menjadi salah satu Laboratorium Perdamaian di kota Ambon dan provinsi Maluku,” jelas Sahat.

Usai bersilaturahmi di Masjid Darul Na’im, Pengurus Pusat GMKI melanjutkan kunjungan ke Gereja Pniel Wayame yang berada tidak jauh dari lokasi Masjid. Nuansa toleransi kembali hadir saat warga Muslim Wayame mengiringi rombongan kegiatan IID dengan menggunakan rebana. Seluruh rombongan akhirnya disambut oleh Pengurus Gereja, Pniel Wayame. (*/ZH/yi)