Sampah Laut di Daerah Ikon Wisata Mulai Mengkhawatirkan

Wisatawan membawa papan surfing berjalan di antara ceceran sampah perayaan Tahun Baru 2016 di Pantai Kuta, Bali, Jumat (1/1). Budaya buang sampah sembarangan pada perayaan pergantian tahun di kawasan wisata tersebut berulang setiap tahun sehingga sangat mengganggu kenyamanan wisatawan. (ANTARA FOTO/Wira Suryantala/nym/foc/16.)

INFONAWACITA.COM – Keberadaan sampah laut di sejumlah daerah ikon pariwisata Indonesia mulai mengkhawatirkan.

Staf Ahli Sekretaris Kabinet Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat, M. Amperawan, mengemukakan, sejumlah daerah yang memiliki persoalan sampah laut antara lain di Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Manggarai Barat, Kota Manado, dan Kabupaten Morotai. Demikian disampaikan Amperawan saat menyampaikan hasil kunjungannya ke daerah-daerah tersebut beberapa waktu lalu, di ruang kerjanya lantai II Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Jumat (29/12) siang.

Amperawan mengingatkan, permasalahan pencemaran sampah di laut, bukan hanya menjadi permasalahan di tingkat lokal saja, namun telah menjadi isu pada level internasional.

Ia mengutip hasil penelitian Profesor Jambeck dkk dari University of Georgia Amerika Serikat terkait sampah plastik di lautan, dari 192 negara di dunia, dimana disebutkan Indonesia menjadi peringkat kedua sebagai penghasil sampah plastik terbesar di dunia setelah Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Menurut Staf Ahli Sekretaris Kabinet Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat itu, penggunaan plastik yang berlebihan di Indonesia memang sangat mengkhawatirkan.

Ia menunjuk data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (Ditjen PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, jumlah sampah yang dihasilkan pada tahun 2016 baik sampah darat maupun laut adalah sebanyak 65 juta ton.

Dengan tingkat pertumbuhan sampah yang diperkirakan akan mengalami peningkatan setiap tahunnya, maka pada tahun 2019, lanjut Amperawan, sampah yang dihasilkan Indonesia diproyeksikan akan sebanyak 68 juta ton. Dari jumlah sebanyak itu, diperkirakan sebanyak 9,52 juta tonnya adalah sampah plastik.

“Sampah plastik ini telah menjadi ancaman bagi lingkungan hidup yang berimbas pada kehidupan manusia karena sifatnya yang tidak dapat hancur dengan sendirinya dan membutuhkan waktu ratusan tahun untuk hancur secara alami, sehingga diperkirakan pada tahun 2050, jumlah sampah plastik yang terendap di lautan akan lebih banyak ketimbang jumlah ikan,” ungkap Amperawan.

Karena itu, Amperawan menginta perlunya segera dilakukan pengendalian dan pemanfaatan sampah plastik agar bisa berkurang, setidaknya tidak bertumbuh cepat seperti yang diperkirakan. Demikian dilansir dari laman resmi Sekretariat Kabinet.(AR/*)