Salut, Kiai Muda Nahdlatul Ulama Ini Raih Predikat “Summa Cumlaude” di Maroko

Nasrulloh Afandi bersama para profesor penguji Fakultas Syariah Universitas al-Qurawiyin Maroko. (foto: NU Online)

INFONAWACITA.COM – Kader muda Nahdlatul Ulama (NU) Nasrulloh Afandi meraih prestasi gemilang. Ia dinobatkan sebagai doktor dengan predikat tertinggi atau “summa cumlaude” atau “musarrif jiddan” di Fakultas Syariah Universitas al-Qurawiyin Maroko.

Kiai muda NU itu mempertahankan disertasi al-fikrul al-almaqosidi wa atsaruhu fifatawa majami’ al-fiqhiyah al-mu’ashiroh. Dalam bahasa Indonesia bermakna “Pemikiran Maqashid Syariah dan Pengaruhnya terhadap Fatwa, Lembaga-Lembaga Fatwa Modern”.

Pimpinan Pesantren asy-Syafi’iyyah Kedungwungu Krangkeng, Indramayu itu menawarkan berbagai solusi fleksibilitas dan moderatisme hukum Islam di tengah beragamnya problematika masyarakat modern.

Demikian seperti dikutip dari laman nu.or.id di Jakarta, Kamis (8/2/2018).

Konteks fatwa ekonomi

Di konteks fatwa ekonomi, Gus Nasrul, panggilan akrabnya memaparkan secara detail, unsur-unsur maqashid syariah.

Ia mengupas lembaga fatwa di Eropa yang memperbolehkan Muslim yang tinggal di negara muslim minoritas dan soal bertransaksi ekonomi kredit rumah dengan transaksi unsur riba. Kemudian juga analisa unsur-unsur maqashid syariah dari fatwa di negara Muslim minoritas, Muslim boleh bekerja di lembaga asuransi yang menurut tinjauan fiqih adalah haram.

Konteks keluarga

Kemudian, dalam konteks keluarga, Gus Nasrul juga berhasil menganalisa unsur-unsur maqashid syariah secara detail. Atas fatwa dari kasus sepasang suami istri nonmuslim di negara-negara Muslim minoritas yang mendadak istrinya masuk Islam dan suaminya tetap nonmuslim.

“Dalam tinjauan Maqashid syariah, tidak jatuh talak/cerai. Padahal dalam tinjauan fiqih, kasus tersebut menyebabkan langsung jatuh talak,” tutur pria yang juga menantu KH Makmun, Pengasuh Pesantren Balekambang, Jepara itu.

Konteks kedokteran

Lalu, dalam konteks kedokteran, ia berhasil menjabarkan unsur-unsur maqashid syariah secara mendalam dari fatwa yang memperbolehkan bedah jenazah untuk mengambil organ tubuh, bagi orang yang masih hidup.

Hal itu boleh demi menyelamatkan jiwa orang yang masih hidup. “Padahal hal itu dilarang dalam hukum fiqih. Namun karena adanya kemaslahatan, dalam tinjauan maqashid syariah hal itu diperbolehkan,” tuturnya.

Empat profesor penguji

Sidang dilaksanakan dengan empat orang Profesor penguji. Para penguji menyepakati, melalui disertasi ini, Nasrulloh Afandi dengan menggunakan analisis maqashid syariah, ia berusaha memberi solusi kebuntuan hukum Islam (fiqih) di tengah semakin kompleksnya berbagai problematika kehidupan masyarakat modern.

“lni merupakan karya ilmiah yang sangat perlu untuk dibaca oleh para mufti dan mujtahid modern untuk menjawab persoalan umat sesuai perkembangan zaman dengan berbagai permasalahan hukum Islam, yang sangat butuh solusi, meski disertasi ini masih perlu adanya pembenahan,” ucap salah seorang profesor penguji.

Ada hal unik dalam sidang tersebut. Gus Nasrul mengenakan pakaian khas Indonesia, baju batik, sarung, dan peci hitam serta sandal jepit. Namun, karena cuaca puncak musim dingin, ia tampak mengenakan kaos kaki.

“Alhamdulillah hari ini (Rabu, 7/2/2018) saya resmi dinobatkan sebagai doktor, dengan nilai summa cumlaude atau musyarrof jiddan atau sangat terhormat dengan banyak pujian,” demikian Nasrulloh Afandi dalam keterangannya yang diterima Antara di Jakarta, Kamis (8/2/2018).

Sebagai informasi, Universitas al-Qurawiyin adalah universitas tertua didunia yang didirikan pada tahun 859. (*)