PP Muhammadiyah Larang Ceramah Idul Fitri Berbau SARA dan Politik Praktis

Ilustrasi penolakan intoleransi di Indonesia. (Foto: tempo.co/Suryo Wibowo

INFONAWACITA.COM – Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah mengimbau para khatib dan muballigh untuk tidak menjadikan ceramah Idul Fitri 1439 H sebagai alat kampanye dan politik praktis. Ceramah juga tidak boleh menyinggung umat lainnya.

Imbauan ini dikeluarkan dalam keterangan pers yang diunggah muhammdiyah.or.id pada Rabu (13/6/2018).

Pada imbauan tersebut para khatib dan muballigh hendaknya menyampaikan khutbah dan ceramah yang berisi ajakan agar umat Islam senantiasa berusaha melanjutkan amal shalih selama bulan Ramadhan secara lebih baik serta meningkatkan ketaqwaan dengan berbuat ihsan.

Ceramah tersebut juga harus dapat meningkatkan soliditas dan solidaritas sosial, serta memelihara kerukunan dan persatuan umat dan bangsa. “Sampaikan pesan-pesan keislaman yang menyebarkan kedamaian, persaudaraan, kemajuan, dan mencerahkan,” tulis keterangan resmi tersebut.

Oleh sebab itu para khatib dan muballigh diharapkan tidak menjadikan khutbah dan ceramah sebagai ajang kampanye dan propaganda politik praktis. Khutbah juga tidak boleh menyampaikan materi yang berpotensi menimbulkan kontroversi dan disharmoni sosial, politik, dan agama baik intern maupun antar umat beragama.

Elit Politik Harus Tampilkan Keteladanan yang Baik

Info terkait: PP Muhammadiyah Imbau Umat Gemakan Takbir dengan Tetap Kedepankan Toleransi Antaragama

Diharapkan segenap umat Muslim bisa menjadikan puasa dan ibadah Ramadhan serta Idul Fitri ini sebagai wahana untuk semakin meningkatkan kualitas iman dan taqwa, memperbanyak amal shaleh, memperluas ilmu pengetahuan, serta mengembangkan sikap dan tindakan yang berakhlak mulia.

“Baik elite maupun warga diajak untuk menampilkan keteladanan yang baik atau uswah hasanah sehingga kaum muslim di negeri ini menjadi rahmatan lil-‘alamin,” tulis pada salah satu poin lainnya. (DS/yi)