Polri Tetapkan Satu Orang Tersangka Kasus TPPU Yayasan Keadilan Untuk Semua

3.bp.blogspot.com

INFONAWACITA.COM – Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri meningkatkan perkara dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) di Yayasan Keadilan Untuk Semua dari penyelidikan menjadi penyidikan.

Kepala Biro Penerangan Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Rikwanto mengatakan pihaknya juga menetapkan seorang staf perbankan berinisial IA sebagai tersangka TPPU pengalihan kekayaan Yayasan Keadilan Untuk Semua.

“IA merupakan rekan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) Bachtiar Nasir (BN),” kata Rikwanto di Mabes Polri, Jakarta, Senin (13/2). (baca: Bachtiar Nasir Diperiksa Terkait Dugaan TPPU Dana Yayasan Justice for All )

Menurut Rikwanto, tersangka IA yang merupakan staf perbankan ini berperan mencairkan dana dari rekening Yayasan Keadilan Untuk Semua seperti yang diminta oleh Bachtiar Nasir.

Tujuan pencairan dana ini, kata Rikwanto, masih diselidiki penyidik Bareskrim. “Dia (Bachtiar) kan meminjam rekening yayasan itu untuk hal-hal yang dia maksudkan sendiri. Ini masih didalami materinya,” kata Rikwanto.

Penyidik, kata Rikwanto sedang mengusut selebaran yang diunggah di media sosial yang meminta masyarakat menyumbangkan uang untuk Aksi Bela Islam III melalui rekening khusus GNPG-MUI, atas nama Yayasan Keadilan Untuk Semua.

“Dalam selebaran tersebut tertera penanggung jawab rekening tersebut adalah Bachtiar Nasir, Zaitun Rasmin, dan Luthfie Hakim,” kata Rikwanto.

Terkait kasus ini, penyidik Bareskrim telah memeriksa empat orang sebagai saksi yakni Ketua GNPF-MUI Bachtiar Nasir, Ketua Yayasan Keadilan Untuk Semua Adnin Armas, Sekretaris Front Pembela Islam (FPI) Novel Bamukmin dan seorang staf Bank berinisial IA.

Usai menjalani pemeriksaan, Bachtiar Nasir mengaku mengelola dana sebesar Rp 3 miliar di rekening Yayasan Keadilan Untuk Semua. Dana sumbangan umat muslim tersebut sebagian digunakan untuk mendanai Aksi 411 dan Aksi 212.

Dana tersebut, kata Bachtiar juga digunakan untuk membantu para korban bencana gempa di Pidie Jaya, Aceh dan bencana banjir bandang di Bima dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Tidak ada penyalahgunaan dalam pengelolaan dana yang terkumpul di rekening yayasan. Kami hanya meminjam rekening yayasan tersebut agar arus dana umat dapat dipantau dengan baik,” kata Bachtiar. (AK/ANT)