Politisasi SARA, Ingat Pengalaman Kehancuran Yugoslavia

INFONAWACITA.COM –Direktur Imparsial Al Araf mengingatkan bahaya penggunaan isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan) dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta karena akan mempengaruhi situasi politik nasional.

Menurut Al Araf, penggunaan politik SARA akan berdampak pada kehidupan demokrasi di tanah air yang dibangun dari ratusan suku bangsa dengan berbagai perbedaan. Politik primordialisme ini, kata Al Arab, bisa menghancurkan sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Indonesia harus belajar dari kasus Rwanda, ketika politisasi SARA mengakibatkan konflik dan kekerasan berkepanjangan yang berujung genosida,” kata Al Araf dalam diskusi publik membaca tanda sejarah menjaga Indonesia Bhinneka di Jakarta, Rabu (16/11).

Al Araf mengingatkan masyarakat Indonesia akan pengalaman kelam Republik Federal Yugoslavia terpecah menjadi enam negara setelah  dilanda konflik dan pertikaian etnis berkepanjangan akibat politisasi SARA.

Jika situasi politik dalam Pilgub DKI Jakarta terus memanas, Al Araf khawatir Indonesia akan mengalami nasib yang sama dengan Yugoslavia dan bahkan Rwanda. “Pertarungan politik di Yugoslavia membuat negara itu bubar terpecah menjadi enam negara. Politik SARA harusnya dihindari dalam pertarungan politik,” kata Al Araf mengingatkan.

Al Araf juga mengingatkan Pemerintah akan bahaya seruan kebencian (hate speech) yang menjadi benih permusuhan. Terlebih seruan kebencian ini dilakukan secara masif melalui media sosial. “Pemerintah harus mengambil langkah konkret untuk untuk meminimalisir penyebaran seruan kebencian ini,”  kata Al Araf. (DS/AK)