Perekrutan Pelaku Teror Masih Gunakan Metode Zaman Old

Pelajar membentangkan spanduk tolak radikalisme dan terorisme saat Deklarasi dan Komitmen Bersama Menolak Radikalisme dan Terorisme, di Semarang, Jateng, Selasa (26/7/2017). (Foto: Antara/R Rekotomo)
Pelajar membentangkan spanduk tolak radikalisme dan terorisme saat Deklarasi dan Komitmen Bersama Menolak Radikalisme dan Terorisme, di Semarang, Jateng, Selasa (26/7/2017). (Foto: Antara/R Rekotomo)

INFONAWACITA.COM – Pengamat terorisme Solahudin menjelaskan dari penelitian yang ia lakukannya nyatanya hanya 9 persen pelaku terorisme direkrut langsung lewat media sosial.

Sedangkan 91 persen direkrut secara tatap muka.

“Sisanya 91 persen mereka alami rekrut melalui offline artinya tatap muka dan itu melalui forum-forum keagamaan,” terang Solahudin dalam disksui di FMB9 di Gedung Kemkominfo Jakarta pada Rabu (16/5/2018).

Menurutnya pelaku terorisme Indonesia menghindari rekurtmen secara online disebabkan beberapa hal.

Penyebab utamanya jelas Solahudin ialah kebebasan berekspresi yang lemah pengawasan pemerintah.

“Satu di Indonesia punya kebebasan berekspresi, jadi temukan pengajian radikal itu sangat mudah,” ungkapnya.

Terlebih kata Solahudin UU Terorisme saat ini tidak ada satupun pasal yang bisa mencekal orang yang berceramah soal radikalisme.

Cari Cara Aman

Sehingga jelas Solahudin mereka tidak membutuhkan proses secara online jika proses offline sangat mudah dan aman.

Belum lagi jelas Solahudin sebelumnya marak penipuan-penipuan untuk bisa bergabung ke ISIS.

Misalnya saja seperti kasus paspor palsu dan penipuan pernikahan terhadap salah seorang anggota ISIS.

“Penipuan itu yang sebabkan kelompok ekstrimis Indonesia tidak terlalu percaya online jika soal proses rekurtmen,” tandasnya. (DS/HG)