Ketimpangan Ekonomi Pemicu Sentimen Agama dan Aksi Intoleran

INFONAWACITA.COM – Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amin Mudzakkir menilai menguatnya sentimen keagamaan yang mengarah pada aksi intoleran belakangan ini dipicu oleh ketimpangan ekonomi.

Menurut Amin, ketimpangan ekonomi ini kemudian dimanfaatkan oleh golongan-golongan yang merasa tersingkir dalam skema politik. Golongan ini, kata Amin, menggunakan sentimen keagamaan menyasar masyarakat golongan menengah kebawah yang memang terdampak langsung oleh ketimpangan ekonomi.

“Jika kita melihat aksi intoleran yang terjadi selama ini, umumnya melibatkan kelompok masyarakat menengah kebawah. Kelompok ini akan sangat mudah digerakkan karena merasakan langsung dampak ketimpangan ekonomi,” kata Amin dalam dalam diskusi bertajuk bertajuk “Meninjau Kembali Rasa Kebangsaan Kita” di Sekretariat Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (INTI) Jakarta, pekan lalu.

Selain faktor ketimpangan ekonomi, Amin juga melihat adanya perubahan konsep pembelajaran agama yang semula hanya berpusat di pondok pesantren dengan dengan kiai yang jelas dasar keilmuannya.

Sekarang banyak pembelajaran agama diluar pondok pesantren mencoba memenuhi kehausan akan pengetahuan agama. Dengan latar belakang keilmuan yang patut dipertanyakan, mereka inilah yang disinyalir mudah membangkitkan sentimen keagamaan. (baca: Semua Negara Demokrasi Memiliki Tantangan Kemajemukan )

Kondisi yang lebih memprihatinkan saat ini, kata Amin, dimana tokoh-tokoh ulama tradisional telah terganti oleh ulama media. Ulama tradisional yang kebanyakan menganut paham moderat mulai tak didengar oleh umat muslim yang lebih percaya dengan seruan ulama media yang tersebar luas melalui media sosial maupun media konvensional.

“Misalnya saja, di daerah saya (Tasikmalaya), sudah jelas Kiai di Pondok bilang jangan ke Jakarta (aksi 212) akan tetapi lucunya santri-santrinya tetap berangkat ke Jakarta. Ini yang harusnya menjadi perhatian khusus,” kata Amin.

Dalam kasus ini, Amin berharap pemerintah berani menunjukkan ketegasannya menindak ulama yang menggiring opini radikal memanfaatkan sentimen keagamaan. Dia mengaku khawatir jika terus dibiarkan akan mengganggu kerukunan hidup yang sudah terbangun dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.

“Tidak perlu dibuat standar, tapi minimal pemerintah dapat bertindak pada ulama-ulama media yang memanfaatkan sentimen agama ini,” kata Amin.

Mengenai ketimpangan ekonomi, kata Amin, menjadi tanggung jawab pemerintah untuk terus berupaya meminimalkan kesenjangan ekonomi. Amin juga berharap Presiden Joko Widodo sebisa mungkin merangkul tokoh-tokoh yang merasa terpinggirkan.

Amin mengapresiasi safari politik keagamaan yang dilakukan Presiden Joko Widodo paska aksi 411 lalu. Menurutnya, safari politik ini cukup berhasil mendinginkan suasana saat itu. (baca: Sentimen Keagamaan Takkan Goyahkan Persatuan Indonesia )

“Lebih baik telat menurut saya daripada tidak sama sekali. Mungkin kedepan Presiden Jokowi tidak hanya mengunjungi tokoh-tokoh Islam moderat, tapi juga harus mengunjungi tokoh-tokoh yang radikal ini, karena tidak menutup kemungkinan mereka juga masih dapat diajak konsolidasi,” kata Amin. (DS/AK)