“Penolakan Pemakaman Teroris adalah Hukuman Sosial dari Masyarakat”

Gubernur Jawa Timur Soekarwo (foto: breakingnews.co.id)

INFONAWACITA.COM – Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan bahwa penolakan pemakaman para pelaku teror di wilayahnya sepekan lalu adalah bentuk hukuman sosial dari masyarakat.

“Saat ini, masyarakat telah memberikan hukuman atau sanksi sosial, seperti reaksi tidak boleh dimakamkan di daerahnya,” ujarnya kepada wartawan di Gedung Negara Grahadi di Surabaya, Minggu (20/5/2018).

Sadari Hidup Berdampingan

Menurut Soekarwo, dikutip dari Antara, reaksi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mulai merasa pentingnya hidup berdampingan secara pluralisme dengan damai. Ditambahkannya, masyarakat sepakat bahwa kekerasan tidak menyelesaikan masalah.

Selain itu, kata dia, masyarakat juga telah mengetahui bahwa terorisme bukan perintah agama, karena tidak ada agama manapun yang membenarkannya.

“Sangat tidak dibenarkan ajaran radikalisme dan semua agama menolak kekerasan, apalagi sampai melakukan pembunuhan seperti itu,” ucap Pakde Karwo, sapaan akrabnya.

Kendati demikian, orang nomor satu di Pemprov Jatim tersebut mengakui bahwa sudah tugas dan tanggung jawab pemerintah untuk selanjutnya mencarikan makam bagi para pelaku teror.

Info terkait: Kepada Korban Ledakan Bom, Pakde Karwo Sampaikan Hal Ini

Seorang biarawati bergandengan tangan dengan seorang wanita berhijab pada 8 Januari 2014 saat hendak menyeberang jalan di Jalan Loji Kecil, Yogyakarta. Peristiwa ini diabadikan oleh pembuat film dokumenter Lexi Rambadeta. (Foto: Lexi Rambadeta)
Seorang biarawati bergandengan tangan dengan seorang wanita berhijab pada 8 Januari 2014 saat hendak menyeberang jalan di Jalan Loji Kecil, Yogyakarta. Peristiwa ini diabadikan oleh pembuat film dokumenter Lexi Rambadeta. (Foto: Lexi Rambadeta)
Jenazah Teroris

Sementara itu, Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin mengaku sampai saat ini sudah 10 jenazah dari 13 jenazah teroris yang meninggal dunia saat insiden bom di Surabaya dan Sidoarjo, serta terlibat baku tembak dengan Tim Densus 88 Mabes Polri.

Tiga jenazah di antaranya telah dimakamkan di Sidoarjo, yakni berasal dari Rusunawa Wonocolo masing-masing atas nama Anton Ferdiyanto (46), Hilia Aulia Rahman (18) dan Sari Puspitarini (47).

Sedangkan, tujuh jenazah lainnya oleh Kapolda Jatim masih belum disampaikan identitas, termasuk lokasi pemakamannya.

“Hanya tinggal tiga jenazah yang belum karena masih menunggu hasil DNA. Tapi untuk yang lainnya sudah ‘klir’ dan dimakamkan,” kata Kapolda Jatim.