Pengamat: ‘Simpati’ pada Ketua MUI, SBY Coba Giring NU Masuk Pusaran Pilkada Jakarta

Amin Mudzakkir (foto: infonawacita.com/Desy Selviany)

INFONAWACITA.COM – Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amin Mudzakkir menduga manuver politik mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhir-akhir ini mencoba membawa organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) masuk dalam pusaran pilkada DKI Jakarta.

Upaya menarik NU, kata Amin, lebih dari sekedar meraih simpati tapi mencoba melibatkan massa NU ke dalam isu yang berkembang dalam pilkada Jakarta yang sempat diwarnai serangkaian aksi massa.

Bahkan manuver ini terlihat seperti prakondisi untuk menyiapkan mobilisasi pada level masyarakat, yakni orang-orang yang punya sentimen terhadap Kyai dan NU ke dalam pusaran pilkada.

“Kita tahu Aksi 411 dan 212 bukan hanya orang Jakarta yang nanti akan mencoblos pada 15 Februari. Tapi siapapun yang terkena sentimen itu akan membuat suasana tidak kondusif dan ini yang dikuatirkan,” kata Amin di Jakarta, Senin (6/2) kemarin. (baca: Polda Metro Jaya Larang Unjuk Rasa GNPF-MUI 11 Februari )

Paska cuitan SBY di akun twitternya terkait KH Ma’ruf Amin dan isu penyadapan seolah berkembang ke arah upaya membenturkan NU yang direpresentasikan oleh KH Ma’ruf Amin sebagai kelompok Islam dan Ahok yang direpresentasikan akan menistakan agama.

Langkah ini, kata Amin, sangat berbahaya dalam konteks relasi sosial terutama di kalangan masyarakat muslim Indonesia, karena akan mengacaukan hubungan agama dan politik yang sesungguhnya. Bahkan yang lebih miris, kata Amin, karena perkara duniawi seperti pilkada justru dijustifikasi dengan ayat Al Quran.

“Sebagian besar kalangan NU memahami masalah politik sebagai isu duniawi, namun sekarang coba digiring seolah-olah urusan politik ini adalah urusan agama. Isu pilkada dikacaukan seolah-olah jika umat muslim memilih calon gubernur Islam menunjukkan keimanan, dan sebaliknya dianggap menghianati agama jika memilih pemimpin Kristen,” kata Amin. (baca: Episode Baru Curhat SBY di Twitter: Ada yang Menyerang Jokowi, Seolah dari Saya… )

Menurut Amin, pelibatan NU dalam politik praktis bukan hal yang aneh terlebih setelah pemerintah memberlakukan pemilihan kepala daerah yang dipilih langsung. Meski, kata Amin, sejak tahun 1984 NU menyatakan kembali ke khittah 1926 yang artinya menjauhi politik praktis, tetap saja NU tidak lepas dari politik praktis.

“Harus diketahui pula NU sudah belajar dan tidak pernah ada konsensus dalam tubuh NU dalam dukung mendukung pasangan calon. Hal yang lumrah ketika pengurus cabang merekomendasikan calon A, namun di tingkatan warga justru memilih calon B atau C,” kata Amin. (DS/AK)