Pendapatan Petani Hingga Pedagang Pisang di Lebak Malah Meningkat 70 Persen, nih…

Ilustrasi pasar buah. (Foto: graphicriver.net/artisticco)
Ilustrasi pasar buah. (Foto: graphicriver.net/artisticco)

INFONAWACITA.COM – Ada yang tak biasa bagi para petani hingga pedagang pisang di Kabupaten Lebak, Banten. Sejak tiga pekan terakhir permintaan pisang melonjak. Efeknya menyebabkan pendapatan pedagang meningkat 70 persen, dibandingkan hari normal.

“Melonjaknya permintaan pisang itu, karena banyak masyarakat merayakan pesta pernikahan,” kata Pardi (50) seorang pedagang di kiosnya di Jalan Lingkar Selatan Rangkasbitung, Senin (16/4/2018).

Selama ini, permintaan pasar terlayani karena produksi pisang melimpah. Hampir setiap hari pisang didatangkan dari petani di berbagai wilayah. Mulai dari Kecamatan Muncang, Cirinten, Leuwidamar, Bojongmanik, Cimarga dan Gunungkencana.

Mereka, para penampung pisang, dipasok ke Jalan Lingkar Selatan Rangkasbitung. Untuk kemudian dijual kepada pedagang pengecer.

Produksi pisang menjadikan andalan ekonomi petani. Sebabnya karena jumlahnya mencapai puluhan ton per hari.

Bahkan, produksi pisang Kabupaten Lebak dipasok hingga ke Tangerang dan Jakarta.

Komoditas pisang itu dari berbagai jenis. Diantaranya jenis kepok, ambon, galek, raja sereh, raja buluh, mulih, kepok Lampung, Galek Lampung, emas, nangka, ketan dan lainnya.

“Kami merasa kewalahan melayani permintaan pasar. Terlebih menjelang Ramadhan,” lanjutnya.

Meningkat 70 Persen

Harsono (50), seorang penampung pisang di Jalan Lingkar Selatan Rangkasbitung mengatakan, dirinya setiap hari menampung pisang dari petani Kabupaten Lebak dan Pandeglang.

Komoditas pisang itu, nantinya, dipasok ke Pasar Rangkasbitung. Serta ke luar daerah seperti Tangerang dan Jakarta.

Selama ini, permintaan pisang melonjak karena banyak masyarakat menggelar pesta pernikahan. Juga menjelang Ramadhan.

Biasanya, menjelang Ramadhan, para pembeli menjadikan pisang itu sebagai bahan baku aneka makanan kering.

“Kami hari ini sudah habis sebanyak dua ton pisang karena permintaan pasar meningkat sekitar 70 persen,” ungkapnya.

Sementara itu, Suryadi (55), seorang petani yang ditemui di Jalan Lingkar Selatan Rangkasbitung mengaku, selama ini komoditas pisang menjadikan produk andalan ekonomi petani. Sebabnya karena setiap pekan bisa menghasilkan uang.

Pisang yang dijual itu, lanjut Suryadi, selain milik kebunnya sendiri. Juga ia tampung dari petani lainnya.

“Usaha ini sudah berlangsung lama, dan kami juga merupakan petani,” jelas Suryadi.

Komoditas Andalan

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak Dede Supriatna mengatakan, selama ini komoditas pisang menjadi andalan petani Lebak. Sehingga setiap hari memenuhi Pasar Rangkasbitung.

Komoditas pisang di Kabupaten Lebak mengalami surplus. Sehingga meningkatkan pendapatan petani pisang.

Perguliran uang hasil penjualan pisang itu mencapai miliaran rupiah per hari. Dengan produksi ratusan ton.

Saat ini, harga pisang di tingkat penampung berkisar Rp70.000-Rp250.000 per tandan.

“Kami terus mendorong petani meningkatkan produksi juga kualitas. Agar pisang Lebak bisa bersaing pasar,” pungkasnya, seperti dilansir dari Antara.