PBNU Tegaskan Ujaran Kebencian adalah Perbuatan Haram

Ketua PBNU, KH. Said Aqil Siradj saat di Istana Negara. (Foto: setkab.go.id).

INFONAWACITA.COM – Atas nama apapun, ujaran kebencian kini telah dijatuhi hukuman sebagai perbuatan tercela. Hal ini merupakan keputusan sidang Komisi Bahtsul Masail Diniyah al-Maudluiyah Munas Alim Ulama 2017.

Amar ma’ruf nahi munkar juga tidak bisa dilakukan dengan kemunkaran karena mengajak kebaikan juga harus dilakukan dengan kebaikan,” kata Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU, Mahbub Ma’afi, seperti dikutip dari nu.or.id pada Kamis (30/11).

Jatuhnya keputusan ini, tentu sebagai jawaban atas keresahan selama ini. Termasuk juga atas adanya dakwah-dakwah kerap melibatkan ujaran kebencian.

Landasan Pengharaman

Ujaran kebencian, lanjut Mahbub, diharamkan karena menyerang kehormatan pribadi dan golongan. Terlebih lagi agama melindungi hal itu. Bukan itu saja, ujaran kebencian membawa dampak yang serius bagi tata kehidupan sosial masyarakat.

“Sebut saja mulai dari permusuhan, pertikaian, dan kebencian antara satu orang dengan orang lain serta antara golongan dengan golongan yang lain,” lanjutnya.

“Perpecahan di kalangan golongan masyarakat akan mudah terjadi akibat ujaran kebencian yang menembus batas-batas pertahanan sosial masyarakat. Pada gilirannya, harmoni dan kerukunan masyarakat akan mudah terkikis dalam suasana dan iklim kebencian,” tambah Mahbub.

Ujaran Kebencian di Media Sosial

Mahbub Ma’afi juga mengatakan, media sosial telah menjadi sarana yang paling cepat dalam penyebaran ujaran kebencian. Baik dalam bentuk lisan maupun tertulis.

“Konten-konten ujaran kebencian kini mudah diakses dan tersebar ke seluruh lapisan masyarakat melalui media sosial. Baik kepada anak-anak maupun orang dewasa,” terang pria kelahiran Pemalang, Jawa Tengah ini.

Reaksi Serupa dari Ketua PBNU

Sementara itu Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj, juga memberikan reaksi serupa. Menurutnya, maraknya ujaran kebencian yang kerap terlontar di atas mimbar pidato dan ceramah bisa memecah belah.

“Ujaran-ujaran kebencian, intoleransi, dan ajakan radikal mewarnai dakwah di negeri kita. Terlebih ketika dakwah yang terlihat justru tidak berusaha memupuk kebersamaan dalam keberagaman,” ujar Kiai Said dalam opininya di Harian Kompas edisi Kamis (29/11/2017) berjudul ‘Dai Kombatan’.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini, dai-dai dengan tendensi kebencian tersebut tidak sedikit yang melahirkan atau menetaskan pengikut militan.

Hal ini, menurut kiai kelahiran Cirebon itu, didukung dengan karakter generasi milenial yang begitu mudah terseret arus radikalisme karena sihir dakwah yang berkecenderungan keras.

“Kemudian para radikalis mengendus celah dan kesempatan ini sehingga dengan mudah bermain menyalakan bara,” tutup Guru Besar Ilmu Tasawuf ini dalam menyikapi derasnya arus ujaran kebencian yang menjadi salah satu faktor timbulnya radikalisme. (ZA/yi)