Negosiasi Freeport Tinggal Masalah Divestasi 51 Persen

INFONAWACITA.COM – Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono menjelaskan jika proses negosiasi PT Freeport Indonesia (PTFI) tinggal kesepakatan divestasi 51 persen.

Bambang mengatakan bahwa saat ini belum ada kecocokan mengenai divestasi 51 persen antara Freeport dan pemerintah.

“Freeport masih berunding kita mau selesaikan dengan cepat, proses yang hingga kini belum terselesaikan proses divestasi. Dalam hal ini diwakili Kementerian Keuangan dan BUMN,” kata Bambang di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta pada Rabu (27/12).

Seperti diketahui ada 4 negosiasi yang harus dipenuhi Freeport untuk dapat memperpanjang izin tambangnya. Yakni perubahan dari Kontrak Karya ke Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), menjamin penerimaan negara, pembangunan smelter, dan divestasi saham 51 persen kepada Indonesia.

Ketika ditanyai kendala negosiasi tersebut Bambang enggan menjelaskan. “Namanya tawar menawar kendalanya belum cocok,” singkatnya.

Saat disinggung mengenai wacana pemerintah yang akan membeli hak partisipasi (participating interest/PI) Rio Tinto di PT Freeport Indonesia (FI) sebesar 40%, Bambang menjelaskan bahwa saat ini hal terpenting yang diusahakan pemerintah ialah benar-benar dapat memiliki saham sebesar 51 persen atas Freeport.

“Tujuan utama pemerintah memiliki saham 51 persen, asal dari mana ya tetap divestasi,” kata Bambang.

Seperti diketahui Rio Tinto merupakan perusahaan tambang asal Australia yang memiliki participation interest terhadap Freeport Indonesia sebanyak 40 persen. Freeport Indonesia dan Rio Tinto mempunyai kesepakatan pada tahun 1990-an. Keduanya memiliki perjanjian mengenai pendanaan dan pengoperasian hingga 2021.

Meski demikian ia berharap jika kesepakatan divestasi 51 persen bisa benar-benar teralisasikan sebelum bulan Desember berakhir. “Ya mudah-mudahan,” ujar Bambang. (DS/yi)