Namanya Puti Guntur Soekarno, Simak 5 Catatan “Pendamping” Gus Ipul Ini

Puti Guntur Soekarno. (Foto: putiguntursoekarno.org)

INFONAWACITA.COM – Salah satu nama yang mendadak menjadi percakapan akhir-akhir ini adalah Puti Guntur Soekarno. Salah satu penyebab, dirinya kini resmi menjadi calon wakil gubernur Provinsi Jawa Timur. Mendampingi Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.

Pertanyaan segera muncul. Siapa sebenarnya sosok yang memanggul ‘Soekarno’ di belakang namanya itu?

Nah, yuk kita cek 5 catatannya Puti Guntur Soekarno ini.

Puti Guntur Soekarno di Tokyo, Jepang. (Foto: putiguntursoekarno.org).
1. Namanya Tak Sependek Itu

Sebenarnya nama Puti Guntur Soekarno tak sependek yang dikira. Nama aslinya adalah Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri. Ia merupakan cucu dari Bapak Proklamator, Soekarno. Ayahnya adalah putra pertama Presiden pertama Indonesia, Guntur Soekarnoputra. Jebolan Universitas Indonesia ini juga seorang ibu dari dua anak.

Puti Guntur Soekarno saat berziarah ke makam Ki Marhaen. (Foto: putiguntursoekarno.org).
2. Ziarahi Makam Ki Marhaen, Menguak Fakta

Pada Minggu (13/08/2017) lalu, Puti Guntur Soekarno berziarah ke makam yang namanya juga tercatat di Republik ini. Ki Marhaen, di Kawasan Batununggal Kota Bandung.

Kunjungan itu sebagai bentuk napak tilas dari cucu Bung Karno tersebut. Terutama terhadap kiprah kakeknya yang sering mengunjungi Ki Marhaen. Seperti diketahui, dari sinilah muncul paham marhaenisme yang digagas proklamator Indonesia tersebut.

“Ini juga sebagai pembuktian bahwa Ki Marhaen bukanlah mitos. Padahal makamnya masih ada. Keluarganya pun masih ada hingga sekarang,” kata Puti Guntur Soekarno di lokasi makam, seperti dikutip dari pikiran-rakyat.com.

Puti pun menjelaskan ideologi ini. Menurutnya, Marhaenisme adalah akar tumbuhnya paham ‘Berdikari’ atau berdiri di atas kaki sendiri yang diilhami dari kegiatan Ki Marhaen sehari-hari.

“Ki Marhaen memiliki sawah sendiri. Sehingga beras pun tidak pernah beli. Begitu juga dengan lauk pauknya. Ki Ma‎rhaen memiliki sebuah kolam sendiri. Jadi sama sekali tak bergantung pada orang lain,” ucapnya.

Selain itu juga, ‎Marhaenisme bisa diterapkan di seluruh Indonesia. Alasannya terkait dengan kultur dan suburnya tanah di Indonesia. Hal tersebut sangat mudah untuk dilakukan.

Marhaenisme diambil dari nama Ki Marhaen. Sebenarnya biasa disapa dengan nama Ki Aen.

Puti Guntur Soekarno saat mengunjungi Pondok Pesantren Buntet di Cirebon. (Foto: putiguntursoekarno.org).
3. Akrab dengan Dunia Pesantren

Puti Guntur Soekarno juga tercatat akrab dengan dunia pesantrean. Bahkan ia pernah menyambangi pesantren tertua di Jawa Barat. Tepatnya Pondok Pesantren Buntet di Cirebon, Kamis (10/8/2017) silam. Menurut Cucu Bung Karno ini, selain membangun silaturahmi, juga sebagai bagian refleksi perjuangan para Kyai-kyai dan kakeknya Soekarno. Terutama di masa perjuangan melawan penjajahan.

Kedatangan Puti diterima langsung oleh Pengurus Pondok Buntet Pesantren Cirebon, Kiai Adib Rofiuddin, di kediamannya. Puti mengungkapkan bahwa kedatangannya saat itu untuk menyambung silaturahmi kebangsaan. Dimana itu merupakan amanah dari perjuangan kakeknya yakni Bung Karno.

Terlebih menjelang kemerdekaan dan dalam situasi politik sekarang bahwasanya kemerdekaan Indonesia itu tidak terlepas dari peran para santri dan kyai. Bahkan sejak dulu sudah mempunyai kedekatan dengan tokoh-tokoh nasionalis.

Puti Guntur Soekarno dalam Diskusi bertema: “Meneguhkan Kembali Pancasila Sebagai Ideologi dan Dasar Negara” bersama GP Anshor se-Priangan Timur di Hotel Tiara, Ciamis, Jawa Barat. (Foto: putiguntursoekarno.org).
4. Ungkap Salah Satu Fakta Tersembunyi dari Bung Karno

Ada banyak fakta yang tentunya masyarakat Indonesia belum ketahui. Khususnya yang terkait dengan Presiden pertama RI, Soekarno. Salah satunya momen lahirnya Pancasila.

Dalam Diskusi bertema: “Meneguhkan Kembali Pancasila Sebagai Ideologi dan Dasar Negara” bersama GP Anshor se-Priangan Timur di Hotel Tiara Ciamis Jawa Barat, cucu Bung Karno mengungkapkan fakta baru. Puti menceritakan, Bung Karno melakukan tafakur pada malam sebelum pidato lahirnya Pancasila.

Puti Guntur Soekarno saat sosialisasi empat pilar di Kabupaten Pangandaran. (Foto: (Foto: putiguntursoekarno.org).
5. Anti-Radikalisme

Puti Guntur Soekarno pernah menyampaikan bahwa guru sejarah mesti kerja lebih ekstra keras. Khususnya memberikan pemahaman sejarah Indonesia kepada generasi bangsa.

Ia menyatakannya dalam sosialisasi empat pilar di Kabupaten Pangandaran, seperti dikutip dari laman pribadinya. Ia juga meyakini bahwa pemahaman sejarah Indonesia yang terang tanpa ditutup tutupi, mampu melindungi masyarakat dari paham radikalisme.