Nama Bagus Putra Muljadi Jadi Perbincangan, Siapa Dia?

Bagus Putra Muljadi. (Foto: Istimewa)
Bagus Putra Muljadi. (Foto: Istimewa)

INFONAWACITA.COM – Nama Bagus Putra Muljadi mendadak menjadi perbincangan. Siapakan pemilik Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang terbilang rata-rata yakni 2,7 saat lulus sarjana itu?

Bagus Putra Muljadi juga telah membuktikan bahwa nilai bukan segalanya. Ia melanglangbuana dan kini membuktikan diri menjadi ilmuwan kelas dunia.

Semasa kuliah, Bagus terbilang biasa-biasa saja. Lulus kuliah tidak secepat teman-temannya di Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia juga tak meraih predikat cumlaude atau lulus dengan pujian.

Dengan ketekunan dan kerja keras, ia justru malah membuktikan bahwa nilai bukan segalanya. Buktinya, selepas menamatkan sarjana, dia bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana. Lalu meraih gelar master dan doktornya pada bidang mekanika terapan di National Taiwan University (NTU).

Bagus memang merupakan ilmuwan Tanah Air yang tak biasa. Masih berusia muda tapi kini sudah menjadi Asisten Profesor di Departemen Teknik Lingkungan dan Kimia Universitas Nottingham, Nottingham, Inggris.

“Saya merupakan salah satu profesor termuda di departemen saya di Nottingham,” ungkap Bagus saat ditemui pada acara rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dengan tema “Membumikan Pendidikan Tinggi, Meninggikan Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia” di Bandung, Jawa Barat.

Perjalanan Akademik

Meski demikian, bukan hal yang mudah bagi Bagus untuk menapak karir internasional. Ia harus menempuh jalan yang berliku dan tentu saja memerlukan ketekunan.

Selepas dari NTU, karir akademiknya pun melesat. Ia melanjutkan post doctoral scholar (post doctoral) pada program studi Matematika Institut de Mathmatiques de Toulouse, Perancis. Hingga kemudian melanjutkan kembali post doctoral-nya pada program studi ilmu bumi dan teknik Imperial College London.

Tak hanya muda dan berprestasi internasional, Bagus juga mematahkan anggapan bahwa menjadi linearitas dalam akademik adalah segalanya. Ia membuktikannya sendiri.

Setelah lulus pada prodi teknik mesin kemudian melanjutkan pascasarjana pada bidang mekanika terapan. Selanjutnya “post doctoral” di bidang ilmu bumi dan matematika.

Menurut dia, ilmu pengetahuan sudah seharusnya tidak disekat dengan batasan-batasan yang disebut dengan linearitas. Justru dengan apa yang dilakukannya tersebut, membuat penelitian yang dilakukannya menjadi beragam.

Pindah Jurusan

Empat kali pindah jurusan, sambungnya, tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya. Selain riset yang menjadi beragam, juga memiliki rekan penelitian yang juga beragam karena dari berbagai bidang studi.

Tapi hal itu bukan tanpa risiko. Ia menceritakan pada saat awal mengambil “post doctoral” di bidang matematika. Ia seperti pada tahun pertama kuliah doktor.

“Saya mulai dari awal (belajar lagi dari awal-red). Makanya banyak orang tidak mau ambil risiko, karena biasanya begitu udah dapat gelar doktor, umur kamu sudah 28 tahun atau 30 tahunan. Bahkan ada yang lebih dan sudah berkeluarga. Mengambil risiko seperti itu pada usia demikian sangat berat,” jelas lelaki kelahiran Jakarta, 1 Maret 1983 itu.

Ia merasa beruntung karena pada saat itu berani mengambil risiko tersebut. Lalu berjibaku untuk menghasilkan karya ilmiah di bidang yang familiar dengan dirinya. Hal itu membantunya di kemudian hari.

Bagus juga menceritakan, lika-liku di perguruan tinggi di Inggris. Untuk mendapatkan posisi akademis seperti asisten profesor. Pertanyaan yang sering ditanyakan pada saat wawancara adalah bagaimana cara dosen tersebut sudah mandiri secara akademis.

Salah satu caranya adalah dengan memiliki portofolio penelitian yang beragam dan penelitian yang juga beragam.

“Nonlinear justru membantu kita untuk mendapatkan posisi-posisi permanen. Apalagi di Inggris karena hal itu membuat kita jadi unik dan kalau menurut saya memang ilmu pengetahuan pada dasarnya tidak disekat-sekat. Justru itulah yang saya jawab waktu ditanyakan pada saat wawancara, karena jurnal yang saya tuangkan memiliki kecenderungan dibidang matematika. Bahkan ada dibidang ilmu bumi,” papar pria dengan dua anak itu.

Begitu ditanya oleh panel bagaimana cara dirinya untuk memenangkan dana pembiayaan, karena di perguruan tinggi di Inggris sebagai asisten profresor harus mendapatkan dana pembiayaan, ia menjawab. Jika dia tidak hanya bergantung pada satu jenis riset tertentu.

“Saya bisa memenangkan “funding” dari banyak jenis riset yang kadang-kadang tidak terlalu aplikatif. Bahkan cenderung fundamental atau sebaliknya. Itulah yang membuat, mungkin, saya akhirnya dapat posisi tersebut. Jadi secara singkat, nonlinear sudah sepantasnya tidak dilihat secara konotatif lagi. Bahkan kita harus mengarah pada riset interdisipliner dan kolaboratif,” paparnya.

Jurnal

Bagus saat ini sudah memiliki 10 jurnal internasional dan diprosiding terdapat lebih dari 20 jurnal. Ia mengakui bahwa hal itu bukanlah hal yang istimewa secara kuantitas. Tapi ia mengungkapkan, ada beberapa faktor dari jurnal yang ditulisnya tersebut, menjadi berharga. Seperti apakah penulis pertama, penulis kedua atau gabungan.

“Jurnal saya cuma 10, itu bukan hal yang luar biasa. Tapi saya mempunyai satu jurnal yang saya sendiri penulisnya, yakni tentang pemodelan multiskala media berpori. Untuk melihat aliran cairan berpori. Terus sekitar 90 persen dari jurnal saya tersebut, saya adalah penulis pertamanya. Sementara penulis kedua dan seterusnya juga beragam”.

Ia menyarankan agar jurnal tidak hanya dilihat dari sekedar jumlah, karena ada penulis lain dari grup yang sangat besar, yang menghasilkan jurnal jauh lebih banyak. Banyaknya jurnal dalam dunia akademis, jelasnya, itu baik. Tapi jika ingin melaju ke posisi yang lebih tinggi, apalagi posisi yang permanen, maka sebaiknya memiliki jurnal dengan penulisnya itu merupakan orang itu sendiri.

Sebagai dosen muda yang sudah berkancah di dunia internasional, apa yang menurut Bagus yang harus dimiliki para dosen? Jawabannya adalah pikiran yang terbuka dan mau bekerja sama.

“Semua proyek pada masa depan, seperti ketahanan pangan maupun energi, tidak bisa diselesaikan jika masih ada sekat-sekat (ilmu pengetahuan) yang kaku seperti sekarang. Dosen ‘zaman now’ harus terbiasa dengan konsep kolaborasi interdisiplin, itu yang penting,” saran Bagus, seperti dilansir dari Antara.

Apa yang dilakukan pemerintah melalui Kemristekdikti saat ini, lanjutnya, dengan mengundang dosen dari luar negeri ke Tanah Air akan membawa perubahan positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan ke depan. Dia juga mendorong agar pemerintah, industri, perguruan tinggi serta masyarakat saling berkolaborasi untuk melahirkan inovasi.

Bagus merupakan salah satu sosok anak muda milenial yang mampu membuktikan. Bisa berkancah di dunia internasional dan tentu saja berprestasi.