Menteri ESDM Minta Pemda Inovasi Soal Kendaraan Listrik

"Prototype motor listrik produk Garasindo dan Tim ITS (Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya) ini sudah bagus. Saya menyarankan jika sudah diproduksi secara masal nanti kalau bisa harga jualnya itu dapat bersaing dengan motor yang menggunakan bahan bakar minyak," ujar Jonan usai melakukan uji coba mengendarai motor listrik "Gesits". Gesits sendiri merupakan singkatan dari Garasindo Electric Scooter ITS. (foto: Kementerian ESDM)

INFONAWACITA.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mendorong pemerintah daerah untuk mengeluarkan inovasi Perda kendaraan berlistrik. Pergantian jenis kendaraan BBM ke listrik kata Jonan dibutuhkan saat ini juga, bukan lagi perencanaan mendatang.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dalam acara The 7th United Cities and Local Goverment (UCLG) Asia Pasific (Aspac) Congress yang digelar di Surabaya, Kamis (13/9/2018).

“Pemerintah daerah harus mengambil inisiatif untuk membuat peraturan daerah dan kita (Pemerintah Pusat) akan dukung hal tersebut. Karena electric vehicle is not future, it is now,” tegasnya di depan ratusan delegasi Wali Kota dan Kepala Daerah se-Asia Pasifik seperti termuat dalam keterangan resmi Jumat (14/9/2018).

Lebih lanjut, Menteri ESDM berharap bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Surabaya, bisa mempercepat pembuatan regulasi kendaraan listrik, sehingga bisa menjadi percontohan bagi Pemerintah Daerah lainnya.

“Karena khususnya untuk kota yang tingkat kepadatan lalu lintasnya sangat tinggi, seperti Jakarta dan Surabaya, implementasi regulasi kendaraan listrik harus sesegera mungkin untuk mengurangi emisi karbon,” imbuhnya.

Kurangi Impor BBM

Jonan menjelaskan bahwa hadirnya kendaraan listrik sejalan dengan kebijakan ketahanan energi nasional. Karena jika terus mengulur waktu dalam implementasi kendaraan listrik, diperkirakan pada tahun 2025-2030, konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) akan menjadi 2 juta barel per hari, meningkat dari konsumsi sekarang sebesar 1,3 hingga 1,4 juta barel per hari.

“Padahal produksi minyak Indonesia itu kira kira sekarang kurang sedikit dari 800 ribu barel per hari. Akhirnya impor BBM akan menjadi tinggi sekali,” jelas Jonan.

Menurut Jonan, jika kendaraan listrik diimplementasikan, maka pemerintah tidak perlu mengimpor lagi untuk pemenuhan bahan bakar mobil listrik tersebut.

“Kan listriknya bisa dari batubara, itu tidak perlu impor, dari gas alam, tidak perlu impor juga, lalu dari geothermal, angin, air dan juga dari sampah,” tandasnya.

Sebagai informasi, program kendaraan listrik merupakan salah satu komitmen Pemerintah Indonesia untuk menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca (CO2) sebesar 29 persen pada tahun 2030. Program ini akan terus dijalankan dengan melibatkan institusi-institusi terkait. Pemerintah juga tengah mempersiapkan Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Program Percepatan Kendaraan Bermotor Listrik Untuk Transportasi Jalan.