Mengharukan! Para Ibu di Maluku Senang Harga Telur Turun, Bisa Buatkan Kue Lebaran untuk Kerabat Muslim

foto: beritamalukuonline.com

INFONAWACITA.COM – Sungguh mengharukan. Para ibu rumah tangga di Piru, ibu kota kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) senang dengan turunnya harga telur. Mereka pun bisa membuatkan kue untuk kerabat mereka yang berbeda agama.

Para ibu itu mengapresiasi turunnya harga telur ayam ras di pasar setempat menjadi Rp2.000/butir dari sebelumnya Rp2.500.

Salah seorang warga Piru, Elisabet Mahintirissa salah satunya yang mengungkapkan hal itu pada Kamis (14/6/2018), dikutip dari Antara. Ia mengatakan turunnya harga telur dimanfaatkan untuk membuat kue guna disampaikan kepada rekan kerjanya yang beragama Islam dan sedang merayakan Lebaran.

“Harga per rak (30 butir) kini menjadi Rp60.000, sedangkan sebelumnya masih Rp65.000,” ujarnya.

Dia mengakui, telah membeli sejumlah rak telur ayam ras seharga Rp65.000 pada awal Juni 2018. Ia merasa khawatir menjelang perayaan Idul Fitri 1439 Hijriah melonjak tajam.

“Syukurlah harga mengalami penurunan sehingga bisa membeli lagi karena banyak rekan kerja yang merayakan Idul Fitri sehingga sebagai wujud orang basudara (saudara) memberikan kue,” kata Elisabet.

Keharmonisan antarumat beragama
Foto: taufiqurokhman.com)

Dia memberikan kue bagi temannya yang merayakan Idul Fitri karena saat perayaan Natal pada 25 Desember 2017 lalu dia juga mendapatkan kue dari kerabatnya yang muslim.

“Bukan hanya saling membalas, namun inilah cerminan jalinan keharmonisan antarumat beragama di Maluku sebagai warisan para leluhur yang harus dilestarikan,” ujar Elisabet.

Sebelumnya, warga Piru lainnya, Hamidah, mengeluhkan harga telur ayam ras dijual pedagang di pasar Rp2.500/butir.

Karena itu, dia meminta Bupati SBB, Yasin Payapo, menggelar pasar murah dan melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di pasar untuk mengetahui perkembangan stok maupun harga bahan pokok masyarakat.

“Jangan karena kebutuhan telur saat bulan puasa meningkat selanjutnya dimanfaatkan para pedagang menaikkan harga yang meresahkan masyarakat. Terutama para ibu rumah tangga beragama Islam yang membutuhkannya untuk membuat makanan berbuka puasa,” ujarnya.

Dia memandang perlu para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis dievaluasi kinerjanya. Menurutnya, mereka yang kurang peduli terhadap kebutuhan masyarakat saat bulan puasa diberi teguran keras.

“Bupati harus tegas terhadap pimpinan OPS teknis agar tidak menimbulkan keresahan terhadap masyarakat karena harga bahan pokok melonjak,” tandas Hamidah.