Mengenal Pahlawan Asli Papua Frans Kaisiepo

Frans Kaisiepo. (Foto: tabloidjubi.com)

INFONAWACITA.COM – Saat wajahnya muncul dalam mata uang Rupiah emisi baru yang dikeluarkan Bank Indonesia pada Desember 2016 lalu, banyak yang tak mengenalinya. Tertulis nama Frans Kaisiepo pada lembaran mata uang rupiah itu.

Frank Kaisiepo adalah nama yang banyak diperbincangkan oleh warganet kala peluncuran seri baru mata uang Rupiah saat itu. Wajahnya tercetak dalam uang pecahan Rp 10.000 edisi baru.

Siapa Frans Kaisiepo? Dia adalah pahlawan nasional Indonesia putra asli Papua. Lahir di Wardo, Biak, Papua, 10 Oktober 1921. Dilansir dari pahlawanindonesia.com, jiwa kebangsaan Frans Kaisiepo tumbuh sejak ia berkenalan dengan mantan guru Taman Siswa yang diasingkan ke Digul, Papua.

Bulan Juli tahun 1946, Frans menggagas berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) di Biak. Saat Belanda mengadakan Konferensi Malino di Sulawesi Selatan yang membahas rencana pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT), Frans Kaisiepo menjadi anggota delegasi Irian Barat.

Frans Kaisiepo menentang rencana Belanda tersebut. Bahkan, ia kemudian mengganti nama Netherland Nieuwe Guinea dengan IRIAN yang merupakan singkatan dan Ikut Republik Indonesia Anti Netherland. Frans Kaisiepo dan rakyat Biak kemudian terus mengadakan perlawanan menentang Belanda di Irian.

Diasingkan

Saat Konferensi Meja Bundar (KMB), Frans menolak diangkat sebagai anggota Delegasi Belanda. Akibatnya, ia dihukum dan diasingkan ke daerah terpencil. KMB menghasilkan keputusan pengakuan kedaulatan terhadap Negara Republik Indonesia. Namun, Belanda berkeras bahwa Irian termasuk ke dalam wilayahnya.

Tanggal 19 Desember 1961, Presiden Sukarno mengumandangkan Trikora (Tri Komando Rakyat) sebagai upaya membebaskan Irian yang dilanjutkan dengan operasi militer. Frans Kaisiepo turut aktif membantu TNI untuk mendarat di Irian Barat.

Ketika Trikora berakhir, perjuangan dilanjutkan melalui jalur diplomasi. Tanggal 1 Mei 1963, secara resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerahkan Irian Barat kepada pemerintah RI. Frans Kaisiepo diangkat menjadi gubernur yang pertama dan bertugas melaksanakan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA).

Frans meninggal di Jayapura, Papua, 10 April 1979 pada umur 57 tahun dan dimakamkan Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura. Untuk mengenang jasanya, namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara Frans Kaisiepo di Biak. Selain itu namanya juga diabadikan di salah satu KRI yaitu KRI Frans Kaisiepo.

Pada tanggal 19 Desember 2016, atas jasa jasanya, pemerintah Republik Indonesia, mengabadikannya di pecahan uang kertas rupiah baru, pecahan Rp. 10.000. Frans ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1993.(AR)