Mendagri: Mari Berpolitik Dengan Tetap Berkarakter ke-Indonesiaan

INFONAWACITA.COM – Sesuai amanat Konstitusi UUD 1945, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Thahjo Kumolo memandang bahwa pemilu adalah siklus bernegara yang harus terjadi dalam setiap 5 tahun sekali, seperti yang dijelaskan di Jakarta, pada Jumat (4/1/2019),

“Pemilu adalah ciri bahwa NKRI adalah negara kesatuan yang berbentuk republik dengan sistem politik demokrasi,” ujarnya.

Setiap dari penyelenggaraan Pemilu di samping tahapan proses pelaksanaaan, Pemilu juga membutuhkan iklim yang sehat, sejuk, dan damai.

Ia memiliki makna dalam kontestasi Pemilu merupakan arena pertarungan gagasan, ide, konsep, dan pemikiran bagaimana cara mengelola negara yang disampaikan kontestan dan tim suksesnya. Soal perbedaan pilihan politik masyarakat, baik Pileg dan Pilres harus didudukan dalam koridor dan bingkai komitmen merawat persatuan dan kesatuan bangsa.

“Mari berpolitik dengan tetap berkarakter ke-Indonesiaan, yakni penuh tatakrama, etika dan budaya Indonesia”, tutur Tjahjo, seperti yang dilansir dari kemendagri.go.id.

Hoax Rusak Peradaban Demokrasi Indonesia

Peradaban demokrasi yang berkarakter ke-Indonesiaan, yaitu demokrasi yang berbasis budaya dan etika yang dianut masyarakat Indonesia. Hal itulah yang menjadi kekuatan dan pembeda karakterisktik dari nilai demokrasi Indonesia dibandingkan praktik demokrasi bangsa-bangsa lain di dunia.

“Hoax adalah sumber penyakit sekaligus racun yang merusak peradaban demokrasi Indonesia dan bahkan lebih jauh dari itu bisa menjadi sumber konflik yang menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa”, pungkas Tjahjo.

Ia berharap, semua elemen bangsa harus bersatu menolak dan melawan hoax (berita bohong).