Menaker Imbau Perguruan Tinggi Harus Punya Jejaring dengan Industri

Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri (foto: Kemenaker)

INFONAWACITA.COM – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri menilai bahwa perguruan tinggi memiliki peranan yang cukup penting dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang kompeten. Oleh sebab itu, perlu adanya jejaring kerja sama antara perguruan tinggi dengan industri yang relevan.

“Membangun jejaring antara perguruan tinggi dan dunia industri dibutuhkan untuk mendekatkan SDM-nya yang dihasilkan agar relevan dengan kebutuhan industrinya,” ujar Hanif seperti yang diinformasikan laman Kemenaker┬ápada Kamis (18/1/2018).

Hanif mengatakan untuk menjawab tantangan pasar kerja yang dinamis, perguruan tinggi jangan hanya mengajarkan mahasiswa dengan keterampilan lama.

Sebaliknya, jurusan dan kejuruan yang dimiliki perguruan tinggi harus relevan dengan dunia kerja, baik dari unsur dosen, kurikulum, laboratorium dan semua peralatannya.

“Sekarang dunia bergerak cepat. Perkembangan teknologi menghadirkan berbagai jenis pekerjaan baru. Oleh karenanya, kurikulum yang diajarkan di kampus harus sesuai dengan perubahan jaman dan kebutuhan industri,” jelasnya.

Hanif menambahkan dalam 3 tahun terakhir angka pengangguran di Indonesia terus mengalami penurunan. Namun begitu, persentase pengangguran dengan tingkat pendidikan tinggi justru naik.

Adanya miss match

Hanif melanjutkan, hal ini disebabkan oleh miss match atau ketidaksesuaian antara output SDM dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Angka perbandingan miss match terbilang tinggi. Dalam ukuran 10 orang lulusan perguruan tinggi hanya 3-4 orang saja yang sesuai.

“Nah tentu ini menjadi tantangan kita termasuk tantangan bagi perguruan tinggi,” tambah Hanif.

Selain miss match, lulusan perguruan tinggi juga dihadapkan pada persoalan under qualification. Yakni, lulusan perguruan tinggi masih berada di bawah standar kompetensi.

Ia juga kemudian mengingatkan perkembangan teknologi dan informasi yang masif sangat mempengaruhi perkembangan dunia industri. Efeknya, kebutuhan akan jenis-jenis pekerjaan pun berubah. Dengan adanya perubahan jenis pekerjaan maka dibutuhkan keterampilan-keterampilan baru.

“Ketika pekerjaan berubah maka skills yang dibutuhkan juga berubah. Itulah kenapa perkembangan teknologi informasi sekarang ini perlu kita antisipasi,” ujarnya.

Oleh karena itu, Hanif mengimbau agar perguruan tinggi dapat memetakan perubahan tren di dunia kerja dan menyesuaikannya dengan sistem pendidikan di perguruan tinggi.

Hanif juga juga menyebutkan pemerintah akan mendorong perguruan tinggi untuk lebih berorientasi kepada pendidikan vokasi. Dengan begitu, lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. (RA/yi)