Menag : Beda Politik Jangan Dilihat untuk Saling Menegasikan

(Foto : kemenag.go.id)

INFONAWACITA – Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin hari ini menyapa ribuan penyuluh dan guru agama di Pesantren Ar Ridho, Depok. Ngopi alias ngobrol pendidikan Islam dengan mereka, Menag menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan, dipandu Kakanwil Kemenag Jabar A. Bukhori.

Salah satunya dari Nani Nuraini. Sebagai penyuluh,Nani mengaku terus mencoba mendakwahkan Islam dengan penuh cinta dan damai. Namun, kata Nani, ada juga sebagian masyarakat yang ikut pengajian justru menampakan pertentangan di antara mereka karena pilihan politik yang berbeda.

Menaggapi hal itu, Menag mengajak para guru dan penyuluh istiqamah dalam tugas dakwah dan pendidiknya. Menurutnya, hal itu adalah proses yang terus berkesinambungan, never ending process.

“Di situlah kita diuji untuk tetap konsisten kembali pada esensi agama. Perbedaan politik jangan dilihat untuk saling menegasikan,” pesan Menag di Depok, Sabtu (20/10/18) seperti dilansir dari kemenag.go.id.

Menurut Menag, politik jangan dilihat kulit luarnya saja; seakan kalau berbeda pilihan politik, berarti berbeda semuanya. Pemilihan legislatif dan presiden adalah agenda rutin lima tahunan. “Perbedaan pilihan biasa saja. Tidak perlu didramatisasi seakan seperti antara hidup dan mati,” ujarnya.

“Keragaman diciptakan agar sesama kita bisa saling mengisi dan melengkapi. Bukan menegasikan satu dengan lain,” sambungnya.

Semangat Dakwah

Menurut Menag, semua calon wakil rakyat dan calon presiden akan berkompetisi untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa. Karenanya, kampanye sejatinya adalah dakwah. Menjadi tugas penyuluh dan guru untuk ikut memberi pemahaman agar kampanye didasari semangat berdakwah.

“Dakwah itu mengajak, bukan mengejek. Bukan menebar kebencian, tapi membangun. Masing-masing berlomba untuk melakukan kebajikan,” pungkas Menag.