Melebihi Target, Presiden Jokowi: 2018 Terealisasi 9,4 Juta Sertifikat Tanah

Presiden Jokowi saat menyerahkan sertifikat tanah

INFONAWACITA.COM – Presiden Joko Widodo mengemukakan sejak tahun 2017 lalu, realisasi penerbitan sertifikat hak atas tanah yang dilakukan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional (BPN) telah melebihi target yang telah ditetapkan.

“Ini jadi sertifikat 2017 ditarget 5 juta itu terlampaui jadi 5,4. Kemudian yang 2018 kita beri target 7 juta, dan saya baru dapat laporan tadi terealisasi 9,4 juta. Nah tahun ini targetnya 9 juta, nanti realisasinya mungkin bisa 11, bisa 12 juta,” ujar Presiden Jokowi usai menyerahkan 2.500 sertifikat hak atas tanah untuk rakyat, di Blitar, Jawa Timur.

Sebelumnya saat memberikan sambutan pada acara tersebut Presiden Jokowi mengatakan, dulu setahun seluruh Indonesia itu hanya mengeluarkan 500 ribu–600 ribu sertifikat.

Padahal di seluruh tanah air itu ada 126 juta yang harus bersertifikat, dan sampai 2015 baru 46 juta yang bersertifikat. Artinya, kurang 80 juta yang belum bersertifikat.

“Bayangkan 80juta yang belum bersertifikat. Kalau setahun 500.000 artinya Bapak/Ibu menunggu 160 tahun untuk dapat sertifikat,” ucap Presiden pada Kamis (3/1/2019).

Kepala Negara menjelaskan mengenai perlunya sertifikat itu diberikan, karena setiap dirinya ke desa, ke kampung, ke daerah, baik itu di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi sampai Papua, Maluku, NTB, NTT masih banyak sengketa lahan.

Dengan memegang sertifikat tersebut, lanjut Jokowi, maka ada tanda bukti hak hukum atas tanah.

“Ini adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki. Kalau kita pegang ini sudah,” jelas Presiden seperti yang dilansir dari Setkab.go.id pada Jumat (4/1/2019).

Untuk itu, Presiden Jokowi menitipkan pesan kepada masyarakat, apabila sudah pegang sertifikat agar difotokopi, dan dimasukkan plastik. Sehingga kalau yang asli hilang,masih punya yang fotokopi.

Kelola Keuntungan Sertifikat dengan Tepat 

Presiden Jokowi tidak memungkiri jika ada masyarakat yang akan menggunakan sertifikatnya untuk mendapatkan pinjaman dari bank.

Tapi Presiden berpesan, agar kalau mau minjam ke bank hati-hati dihitung dulu, dikalkulasi dulu, bisa mengangsur enggak setiap bulan. Karena kalau tidak bisa, bisa hilang sertifikatnya.

“Kalau bapak ibu dapat pinjaman,misalnya Rp300 juta gunakan seluruhnya untuk modal usaha, gunakan seluruhnya untuk modal kerja, gunakan seluruhnya untuk modal investasi. Jangan dipakai untuk foya-foya, yang pamer-pamer barang-barang kenikmatan yang seperti itu lho. Rem dulu jangan,” sarannya.

Kalau sudah cukup, ia melanjutkan, silakan dari keuntungan bukan dari pinjaman bisa untuk membeli mobil dan lainnya. Lebih baiknya lagi, dari keuntungan yang ada bisa diinvestasikan kembali.