Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Justru Puji Produk Berpikir Islam Nusantara

Ketua umum pengurus pusat Pemuda Muhammadiyah Danhil Anzar Simanjuntak (foto: detak.co)

INFONAWACITA.COM – Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah Danhil Anzar Simanjuntak mengaku tidak mempermasalahkan tafsir Islam Nusantara. Menurutnya, hal tersebut justru simbol kemajuan umat Islam yang kaya akan khazanah berfikir.

Menjadi catatan, kata Danhil, pemahaman-pemahaman tersebut tidak boleh keluar dari konteks ketahuidan. “Secara pribadi saya tdk pernah mempersalahkan tafsir kreatif terhdp Implementasi Nilai-nilai Islam, dengan berbagai embel-embelnya, asal tdk bertentangan dg Tauhid, Islam Nusantara kah, Islam Liberal kah, Islam Berkemajuan,bagi saya itu simbol umat Islam kaya dg khazanah piker,” cuit @Dahnilanzar Rabu (11/6/2018).

Tidak Boleh untuk Kepentingan Politik

Yang menjadi permasalahan kata Dahnil, ketika kekayaan khazanah berpikir tersebut justru dijadikan untuk menebar kebencian demi kepentingan politik semata.

“Kekayaan Khazanah pikir, melalaui simbol embel-embel Islam Liberal, Islam Nusantara, Islam Berkemajuan dll menjadi masalah ktk nalar sehat dinegasikan dg menebar kebencian kepada yg lain dengan berbagai motif, dan yg paling dominan saya ini ya motif politik kekuasaan,” cuitnya lagi.

Menjadi masalah lagi, kata Dahnil, ketika seseorang menganggap dirinya sebagai orang paling nasionalis atau orang paling Islamis dengan menggunakan embel-embel tersebut.

“Kekayaan Khazanah Pikir dengan penggunaan embel-embel Islam Liberal, Islam Nusantara, Islam Berkemajuan pun menjadi masalah bila nalar sehat dicampakkan, yang dominan adl narasi merasa paling Islami dan Nasionalis, dan menuduh yg lain sebagai yg tidak Islami dan tidak Indonesia,” tulisnya.

Kontekstual

Oleh karenanya ia justru gembira jika produk-produk berpikir dari khazanah Islam berkembang. Sebab menurutnya hal itu menjadikan Islam tetap eksis dalam mengkontekstualisasikan di setiap massa.

“Jadi, saya gembira lahirnya embel-embel Islam tsb sebagai kekayaan khazanah pikir Islam yg luarbiasa. Saya bergembira karena berbagai kelompok terus berpikir untuk menjadikan Islam sebagai jalan yg terus dikontekstualisasikan setting dan masanya,” jelasnya.

Justru menurutnya, seseorang yang memaksakan produk berpikir Islam hanya boleh tunggal sama saja dengan mengkerdilkan Islam itu sendiri. “Islam itu ya satu saja ya Islam gak pake embel2 dan identitas lainnya, bagi saja justru statement yg mengkerdilkan Islam, dan nirnalar memahami perbedaan produk pikir dalam Islam,” tandasnya.