Kesal terhadap Oknum Penjual Beras yang Curang, Ini Detektor Khlorin Mahasiswa UNS

Kevin Ikhwan Muhammad dan Intan Mulia Rahayu menerima medali emas dan penghargaan di Bhiraj Hall 1, BITEC, Bangkok, Thailand (6/2/2018). (Foto: uns.ac.id)

INFONAWACITA.COM – Dua mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah, berhasil meraih juara. Dalam kompetisi ‘International Trade and Exhibition Center’ (BITEC) di Bangkok, Thailand.

“Kami berhasil meraih medali emas dan special award dari ‘World Invention Intellectual Property Association’ (WIIPA). Sebagai penyelenggara dengan menampilkan alat inovasi teknologi bernama SCRAPER, yaitu ‘Smart Chlorinated Rice Portable Detector’ berbasis microcontroller ATmega8535 dan ‘Light Dependent Resistor’ (LDR),” kata salah satu perwakilan UNS Intan Mulia Rahayu, Senin (12/2/2018).

Mahasiswa Fakultas Ilmu dan Teknologi Pangan UNS tersebut mengatakan pembuatan alat SCRAPER dilatarbelakangi oleh maraknya oknum penjual beras curang. Dimana mereka sengaja menambahkan khlorin atau pemutih pada beras yang berkualitas rendah. Supaya beras terlihat putih bersih seperti berkualitas super sehingga disukai konsumen.

“Selama ini masyarakat terutama ibu rumah tangga ketika membeli beras susah membedakan beras. Mana yang mengandung pemutih dan yang tidak,” katanya.

Ia melanjutkan, kandungan khlorin sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh.

Intan dan Kevin berhasil ciptakan alat pendeteksi pemutih pada beras (SCRAPER). (foto: uns.ac.id)
Kholirin Ganggu Tubuh

Intan menjelaskan, khlorin dapat merusak sel-sel darah, mengganggu fungsi hati, atau menyebabkan sakit liver. Serta dapat merusak sistem pernafasan bila penggunaan khlorin mencapai 3-5 ppm dalam beras.

“Bahkan jika dosis lebih dari 30ppm, bisa menyebabkan kematian. Kami berharap alat inovasi kami dapat bermanfaat untuk masyarakat sebagai upaya pencegahan konsumsi beras mengandung pemutih. Selain itu, kami berharap alat inovasi SCRAPER ini dapat membantu pemerintah dalam inspeksi penjual beras di pasar,” paparnya.

Ia menceritakan juga, untuk mendapatkan medali emas tersebut, timnya harus mempresentasikan inovasinya di depan para juri. Dimana para juri secara bergantian mendatangi masing-masing ‘booth” para peserta lomba.

“Hasilnya kami berhasil memperoleh dua penghargaan, yaitu medali emas dan ‘special award’,” katanya, seperti dikutip dari uns.ac.id pada Senin (12/2/2018).

Sementara itu, kompetisi tersebut diikuti oleh 24 negara, yaitu Kanada, Tiongkok, Mesir, Hongkong, India, Indonesia, Iran, Jepang, Lebanon, Makau, Malaysia, Filipina, Polandia, Rumania, Rusia, Saudi Arabia, Singapura, Korea Selatan, Sri Langka, Taiwan, Uni Emirate Arab, Inggris, Vietnam, dan Thailand.

Perwakilan UNS lainnya, selain Intan adalah Kevin Ikhwan Muhammad. Ia merupakan mahasiswa dari Fakultas Teknik Kimia.