Kesaksian Dokter yang Jadi Relawan di Lombok Ini Bikin Bertanya-tanya: Ada Apa Sebenarnya Dibalik Desakan Agar Pemerintah Tetapkan Bencana Nasional?

Presiden Jokowi didampingi Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi, Kastaf Kepresidenan Moeldoko dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di Lombok Utara. (Foto: BPMI)
Presiden Jokowi didampingi Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi, Kastaf Kepresidenan Moeldoko dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di Lombok Utara. (Foto: BPMI)

INFONAWACITA.COM – Sebuah tulisan panjang dari seorang relawan yang berstatus dokter, menjadi pembicaraan. Dokter Andi Mohammad Ardan, demikian nama dari relawan itu, menyatakan bahwa dirinya gerah dengan politisasi gempa Lombok agar ditetapkan menjadi bencana nasional.

“Bencana Nasional berupa kebodohan dalam menerima informasi,” tulis dokter Andi mengawali tulisannya, seperti dikutip pada Sabtu (25/8/2018).

Dokter itu juga menyatakan bahwa berbagai kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan berseliweran di media sosial terkait penggiringan opini agar pemerintahan Jokowi – JK menetapkan menjadi bencana nasional, adalah kesalahan.

“Cukuplah apa yang saya sampaikan beberapa hari ini adalah bukti,” tegasnya.

Berikut tulisan Dokter Andi dengan pembenahan tanda baca:

Bencana Nasional Berupa Kebodohan dalam Menerima Informasi
10 Dzulhijah 1439 H/ 21 Agustus 2018 M Pukul: 23.00 WITA
Oleh : Dr.Andi Mohammad Ardan,SpBP-RE

Tidak ada di lokasi. Tidak pula datang membantu. Hanya berdasarkan katanya, katanya dan katanya. Katanya di Lombok rakyat ditelantarkan. Katanya di Lombok rakyat tidak diperdulikan. Katanya, katanya, katanya pemerintah lebih sayang uang daripada rakyat.

Cukuplah apa yg saya sampaikan beberapa hari ini adalah bukti. Betapa pedulinya pemerintah pada saudara kita di Lombok. Betapa “tidak sedikit” dana yang harus digelontorkan oleh pemerintah untuk membantu saudara kita di Lombok.

Anggaplah untuk memberangkatkan saya dan tim yang saat ini bertugas, dana yang disiapkan oleh pemerintah sangatlah wah. Tidak perlu saya sebutkan berapa besarnya, yang pasti cukup besar. Bahkan sangat besar menurut saya: dua kali lipat ransum yang diberikan saat Bencana Merapi di Jogjakarta! Sehingga membuat kami sangat sungkan apabila sampai sini tidak bekerja.

Itu untuk kami saja. Belum ongkos untuk membangun tenda. Tahu berapa biaya sewanya? Rp25 juta per hari!!! Kamar operasi darurat, lengkap dengan AC dan fasilitas operasi yang melebihi kelengkapan rumah sakit tipe A tempat saya bekerja. Ah, tidak sanggup saya menghitungnya.

Belum lagi tenda yang terus berdatangan tiap hari yang jumlahnya sangat banyak. Bahkan bantuan logistik yang datang tadi pagi melalui laut telah tiba. Sehingga membuat KRI Soeharso (Rumah Sakit Kapal-red) harus melaut karena kapal yang membawa bantuan ingin merapat di pelabuhan.

Malam sebelumnya bantuan datang melalui pesawat Hercules, 24 jam!!! Terus bergerak, bantuan dan logistik dari pemerintah terus mengalir.

Dari segi kurir, PT POS Indonesia menggratiskan biaya pengiriman semua bantuan dari daerah menuju Lombok, semua GRATIS?!?!

Bukannya saya mendukung Jokowi. Saya hanya tidak betah melihat kebohongan berseliweran di medsos. Ada tanggung jawab moral untuk menyampaikan kebenaran pertanggung jawaban kepada Allah Rabbul Alamin dan sayangnya kebohongan itu disebarkan oleh mereka yang sebenarnya tidak ada di lokasi hanya sekedar share berita dan kalau dikejar dari siapa, katanya dari teman. Apakah teman ada dilokasi? Tidak. Tapi dari temannya, teman. Ujung-ujungnya sanadnya terputus. Dalam ilmu Hadist masuk kategori Hadist palsu!!!

Alhamdulillah, dari teman-teman relawan yang memang benar-benar telah berada di lokasi, tidak ada satupun dari mereka yang complaint akan tindakan pemerintah

Mau tahu kenapa???

Yang pasti dan jelas, memang karena mereka lebih fokus membantu dan bekerja, bukan mengkritik!!

Jadi saudaraku, mari kita fokus untuk membantu. Kalau memang kalian anggap pemerintah lamban dan malas, silahkan datang langsung sendiri. Terjun langsung. Mari kita bahu membahu bersama. Tidak ada yang melarang untuk kalian datang kemari. Tidak ada pengusiran. Tidak pula hukuman. Jadi tidak ada alasan bagi kalian kalau memang niat membantu untuk tidak datang kemari.

Seperti seorang yang melihat kebakaran di depannya, bukannya memadamkan api, tapi malah sibuk mengomentari lambatnya pemadam kebakaran yang datang.

Jangan kalian tambah penderitaan saudara-saudara kita di Lombok dengan menjadikan penderitaan mereka sebagai alat para elite politik untuk mencapai ambisi mereka.

Salam Satu Indonesia untuk saudara di Lombok!