Kepada Menteri Agama, Warganet: Mengapa Penggerak Islam Transnasional di Indonesia Merasa Terancam dengan Islam Nusantara?

Kepala BPKH Anggito Abimanyu mendampingi Menag Lukman Hakim Saifuddin menjawab wartawan usai Rapat Terbatas, di Istana Kepresidenan Bogor, Jabar, Kamis (26/4). (Foto: Agung/Humas)
Kepala BPKH Anggito Abimanyu mendampingi Menag Lukman Hakim Saifuddin menjawab wartawan usai Rapat Terbatas, di Istana Kepresidenan Bogor, Jabar, Kamis (26/4). (Foto: Agung/Humas)

INFONAWACITA.COM – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mempersilahkan salah satu warganet saat bertanya kepada dirinya mengenai adanya pihak yang merasa terancam dengan Islam Nusantara. Ia mempersilahkan agar pertanyaan itu dijawab oleh salah satu tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Nadirsyah Hosen.

Awalnya pada Minggu (8/7/2018) pagi, akun @Yentiherlanti mempertanyakan banyaknya perdebatan soal Islam Nusantara di media sosial, salah satunya di Twitter. Ia mempertanyakan, mengapa ada pihak yang merasa terancam dengan istilah tersebut.

“Pak @lukmansaifuddin tanya dong. Mengapa ada yg merasa terancam dg istilah ISLAM NUSANTARA? Dan dilihat opini twitter Kebanyakan yg merasa terancam adalah penggerak ISLAM TRANSNASIONAL di Indonesia,” cuitnya kepada akun @Lukmansaifuddin.

Mendapatkan pertanyaan tersebut, Menteri Lukman mengaku bahwa pertanyaan tersebut terbilang berat. Ia menyerahkan jawaban itu kepada salah satu tokoh muda NU yang juga aktif di Twitter, Nadirsyah Hosen, untuk menjawab pertanyaan dari @Yentiherlanti.

“Wah, minggu pagi begini pertanyaanmu berat sekali.. Baiknya tanyakan ke ahlinya saja, seperti Kiai @na_dirs,” balas Menteri Lukman.

Belakangan wacana penolakan terhadap Islam Nusantara memang marak di berbagai media sosial, termasuk di Twitter. Sebagian dari mereka yang merasa terancam itu, langsung menuding bahwa paham tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam yang lurus.

Nadirsyah Hosen sendiri sudah menegaskan bahwa konsep Islam Nusantara sama sekali tidak bertentangan dengan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

“Sejak era Nabi Muhammad, sahabat & imam mazhab, Islam selalu dipadukan dengan ajaran yang universal dan tradisi lokal. Semuanya jadi terasa indah. Simak yuk penjelasan sosio-historis-komparatif munculnya konsep Islam Nusantara. Biar makin paham dan joss,” tegas Nadirsyah Hosen yang juga menyertakan paparannya mengenai Islam Nusantara di salah satu media daring.

Islam Nusantara

Konsep mengenai Islam Nusantara belakangan memang kerap menjadi pembicaraan hangat. Bahkan sebagian pihak melakukan penolakan tanpa mencoba untuk mengerti hingga memahami terlebih dahulu konsep Islam Nusantara ini.

Hasilnya, pada 2015 silam, salah satu pendakwah kondang yaitu Mamah Dedeh pernah menyatakan penolakannya terhadap Islam Nusantara. Meski demikian, beberapa hari lalu, akhirnya Mamah Dedeh mengakui kekeliruannya tersebut. Sekaligus meminta maaf secara langsung kepada Nahdliyin atas pernyataannya di 2015 silam.

Info Terkait: Mamah Dedeh: Kepada Warga Nahdliyin Saya Mohon Maaf

Di sisi lain, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma’ruf Amin juga sudah membeberkan mengenai konsep Islam Nusantara. Melalui rekaman video yang diunggah pada Februari 2016 silam, Ma’ruf Amin menyatakan bahwa Islam Nusantara merupakan Islam yang moderat.

“Cara berpikir yang tidak tekstual dan tidak liberal. Cara berpikir yang moderat juga dinamis,” jelas Ma’ruf Amin.