Kemenko Kemaritiman Soal Citarum: Tidak Ikut Aturan yang Ditetapkan, Tutup!

Presiden Jokowi di Sungai Citarum saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Bandung, Kamis (22/2/2018). (Foto: Biro Setpers)
Presiden Jokowi di Sungai Citarum saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Bandung, Kamis (22/2/2018). (Foto: Biro Setpers)

INFONAWACITA.COM – Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman menyatakan bahwa kondisi yang membekap Sungai Citarum sangat memprihatinkan. Salah satu sebabnya karena Citarum menjadi sejenis lokasi tempat pembuangan sampah terbesar yang panjangnya bisa mencapai beberapa kilometer hingga limbah buangan pabrik. Efeknya, ikan-ikan di sungai ini tidak bisa lagi dikonsumsi karena sudah terkontaminasi dengan polusi air dan plastik.

“Banyak penyakit yang timbul, terutama stuntting (orang yang pertumbuhan badannya tidak bisa berkembang atau kuntet-red). Biaya BPJS Jawa Barat, menghabiskan anggaran hampir Rp2 triliun (20% BPJS Nasional-red) hanya untuk mengobati warga di sekitar Citarum,” ungkap Deputi Bidang SDM, Iptek, dan Budaya Maritim Safri Burhanuddin dalam paparannya tentang Restorasi Sungai Citarum seperti dikutip dari keterangan resmi pada Kamis (2/8/2018) di Kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta Pusat.

Pada Oktober 2017 lalu, Presiden Jokowi juga telah menugaskan Menko Maritim Luhut B. Pandjaitan untuk membereskan Sungai Citarum. Targetnya, dalam delapan tahun, tepatnya tahun 2015 harus selesai. Mega proyek ini melibatkan tiga kementerian dan sembilanbelas instansi dan institusi terkait. Termasuk Perguruan Tinggi, TNI, Polri, dan Kejaksaan. Keterlibatan TNI, Polri, dan Kejaksaan ini dibutuhkan untuk penegakan hukum.

“Sungai Citarum adalah masalah besar bangsa kita yang tak bisa kita biarkan lagi. Karena ini menyangkut masa depan kita. Terutama terkait dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia,” jelas Sekretaris Menko Maritim Agus Purwoto.

Lalu pada Rabu (1/8/2018) kemarin, Menko Luhut sudah bertemu dengan para pengusaha yang mempunyai pabrik di sepanjang Sungai Citarum. Luhut meminta para pengusaha di sana berkomitmen membantu pemerintah untuk membersihkan dan memulihkan Sungai Ciliwung.

Bila pengusaha tidak mengikuti komitmen yang sudah disepakati maka pemerintah akan bertindak tegas dengan menutup pabrik yang melanggar aturan yang sudah disepakati bersama. Pemerintah meminta para pengusaha untuk membuat Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL).

Target 2025

Bagaimana dengan target Sungai Citarum bersih pada tahun 2025?

“Insya Allah tercapai sebelum 2025. Belum setahun proyek ini berjalan sudah banyak kemajuan yang kami capai. Jika Singapura dan Cina butuh waktu sepuluh tahun membersihkan sungai-sungai di negara masing-masing, saya yakin Sungai Citarum bisa selesai dalam lima tahun,” ungkap Sjafri yang dijuluki “Deputi Sampah” gara-gara mengurusi restorasi Sungai Ciliwung.

Menurut Sjafri, selain Sungai Citarum, dua sungai lainnya yaitu Sungai Cisadane dan Sungai Cisadane juga akan segera direstorasi. Biaya restorasi sungai di Indonesia relatif masih kecil.

“Untuk Sungai Citarum anggarannya sekitar US$1 miliar. Bandingkan dengan Pemerintah Cina yang menganggarkan US$100 miliar per tahun untuk menjaga dan merawat sungai-sungai di sana,” papar Sjafri.