Kegilaan Misman Demi Kewarasan Ekosistem Sungai Karang Mumus

Misman, penggagas Gerakan Memungut Sehelai Sampah di Sungai Karang Mumus, Samarinda, Kalimantan Timur. (foto: Burhanudin/Mongabay.com)

INFONAWACITA.COM – Butuh “kegilaan” agar menjadi waras. Misman memahami betul kalimat itu. Meski namanya hanya sepanjang enam huruf, tapi pengetahuan dan dedikasinya merawat sungai, sepanjang Sungai Karang Mumus (SKM) di Samarinda, Kalimantan Timur tak sependek namanya.

“Hanya orang gila yang melakukan itu. ‘Nggak mikirkah’ dia, setiap hari ada ribuan orang yang membuang sampah ke sungai, sedangkan dia hanya mengambil sedikit. Biar sampai jelek pun, tak mungkin habis sampah di sungai yang diambilnya,” ujar beberapa warga kala itu, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (11/11).

Semua berawal dari kegelisahannya terhadap SKM yang terus-menerus diperlakukan masyarakat bukan sebagai sungai. Ia juga kerap menulis artikel yang berdasarkan pada keresahannya tentang peran dan fungsi sungai bagi manusia dan ekosistemnya.

Meski telah menumpahkannya dengan berbagai bentuk tulisan tentang restorasi sungai, tetap saja belum mampu membuat perilaku warga berubah. Warga tetap membuang sampah ke sungai, tetap membangun rumah baru di badan sungai.

“Kalau kita hanya teriak dan membuat selebaran atau imbauan tentang larangan membuang sampah ke sungai, jelas tidak ada yang menggubris karena hal itu sudah sering dilakukan,” tutur Misman.

Tak sekadar teriak

Akhirnya, tinggal hanya 500 meter dari SKM, Misman tak ingin keresahannya itu justru membuatnya tak melakukan sesuatu. Pada Juli 2015, ia nekat seorang diri mengambil sampah di sungai setelah pekerjaan utamanya tuntas.

Gerakan membersihkan Sungai Karang Mumus pun mulai tumbuh di masyarakat Samarinda. (foto: Yustinus S. Hardjanto/Mongabay.com)

Misman adalah juga seorang pendiri surat kabar mingguan Wartawan Harmoni (Wah), tabloid dwi mingguan yang khusus mewartakan berbagai kegiatan tentang pengembangan pendidikan dan peningkatan sumber daya manusia.

Ia juga seorang PNS yang mendapat kepercayaan sebagai penilik pendidikan nonformal di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur. Pada April 2018 mendatang, Misman akan memasuki masa pensiun.

Ia kemudian memutuskan untuk langsung memunguti sampah demi sampah yang bertebaran di sungai. Tak perduli berapapun jumlah sampah yang ia pungut. Tak perduli volume sampah yang tak berbanding lurus dengan niatnya.

Tak jarang bapak dua anak ini merasakan sakit akibat kelelahan. Sering pula demam menyergap akibat fokusnya yang seolah hanya untuk sungai. Tapi semua rasa itu seakan tak pernah dihiraukan. Ia tetap dan terus kembali bergelimang dengan sampah dan limbah, termasuk mengumpulkan bibit pohon untuk ditanam di garis sempadan.

Kini, meski dulu ia pernah dipandang sebagai “orang gila”, fokus Misman kepada SKM berbuah manis. Sudah ada lebih dari puluhan ribu orang yang membantunya, baik dari warga Samarinda maupun dari luar Samarinda. Seperti dari Tenggarong, Balikpapan, bahkan dari luar Provinsi Kaltim. (ZH/ANT)