Karya Anak Bangsa Bermerk Ruaya Ini Belajar dari Filosofi Ikan Cakalang yaitu Terus Bergerak atau Mati, Seolah Tampar Para Pengeluh dan Penyinyir

Karya anak bangsa bermerk Ruaya yang mengutip filosofi Ikan Cakalang yaitu terus bergerak atau mati. (Foto: Istimewa)
Karya anak bangsa bermerk Ruaya yang mengutip filosofi Ikan Cakalang yaitu terus bergerak atau mati. (Foto: Istimewa)

INFONAWACITA.COM – Pergantian zaman menuntut manusia sebagai makhluk yang memiliki kebutuhan ekonomi untuk menjadi kreatif agar berinovasi supaya tidak tergilas. Ketimbang mengeluh atau nyinyir, menggunakan dan memberdayakan seluruh kemampuan yang dimiliki justru menjadi salah satu penyelamat dari terkaman zaman di bidang ekonomi.

Meski demikian, kompetisi memang pasti masih terjadi. Terlebih lagi, misalnya yang dirasakan oleh Dody Andri. Kompetisi di antara para pengrajin kayu dewasa ini semakin ketat. Tuntutan harus mampu memunculkan inovasi baru agar tak kalah bersaing di tengah perkembangan zaman, menjadi keharusan.

Salah satu sebab, bahan kayu pun tak bisa lagi hanya diproduksi sebagai furnitur biasa. Ia harus mampu berevolusi menjadi berbagai produk lain yang mempunyai keunikan. Semata agar mampu menarik hati konsumen.

Ini juga yang terbesit di pikiran Dody Andri. Pembuat jenama Ruaya itu memastikan nilai tersebut, ketika membuat produk unik berbahan dasar kayu. Semisal tas, pelantang (speaker), hingga dompet.

Berawal sejak 2014, Dody melihat banyak pengrajin di Bantul, Yogyakarta mulai berinovasi membuat jam tangan berbahan dasar kayu. Karena tertarik, dia ikut mempelajari pembuatan jam tersebut. “Kami belajar banyak dari kayu, dari metode, dan sebagainya,” kata Dody.

Sayangnya, Dody menilai pengrajin jam tangan berbahan dasar kayu sudah membanjiri Yogyakarta. Mereka berlomba memberikan produk murah, tapi tetap dengan kualitas yang baik. Di sisi lain, pasar untuk jam tangan berbahan kayu tidak begitu besar. Karenanya, dia merasa perlu membuat produk berbahan kayu yang lebih unik.

Dody kemudian menghasilkan produk pertamanya, yakni speaker berbahan dasar kayu. Produk tersebut dibuat karena terinspirasi dari salah satu pelantang yang dia lihat di sebuah pameran. Kala itu, speakernya berbahan bambu.

Produk pelantang itu lantas membuat nama Ruaya cukup terkenal. Dody kerap diundang ke berbagai pameran. Tak hanya di kancah nasional, juga internasional.

Pengalaman mengikuti berbagai pameran membuatnya mendapat banyak masukan untuk inovasi produk-produk yang lain. Di tengah melesunya penjualan speaker, dia melihat bahwa pasar perempuan cukup potensial untuk dimasuki.

Lalu, dia mematangkan produknya untuk berfokus di ranah mode (fashion). “Akhirnya ketemulah tas,” kata Dody yang menjualnya dengan harga Rp650 hingga Rp950 ribu. Setiap bulan, dia menjual 30-50 tas berbahan dasar kayu untuk pasar dalam negeri.

Sementara untuk ekspor, dalam satu bulan biasanya menjual 3-4 tas dengan tujuan utama Amerika Serikat. Kebanyakan penjualan harian datang dari online, selain dari mengikuti aneka pameran kerajinan.

Agar pasarnya semakin besar, dia bakal terus berinovasi dengan bahan baku kayu. Dia bakal mengikuti filosofi Ruaya, yakni siklus penyebaran ikan cakalang ketika berkembang biak, untuk terus melakukan inovasi.

Cakalang harus terus bergerak agar saluran dalam tubuhnya tidak membeku. “Pilihannya dia bergerak atau mati, seperti yang kami terapkan saat ini. Kalau tidak bergerak, berinovasi, ya kami tidak bisa apa-apa,” ujarnya, seperti dilansir dari katadata.co.id.

Seperti diketahui, meski memang ada beberapa hal bersifat tekhnis yang harus terus diperbaiki, tapi berbagai kebijakan pemerintahan Jokowi – JK telah menyuburkan karya anak bangsa untuk menjadi tuannya di negeri sendiri. Bukan itu saja, promosi langsung juga dilakukan oleh pejabat negara bahkan Presiden Jokowi sendiri. Sehingga produk-produk karya anak bangsa itu kini telah memiliki tempat dan perhatian dari masyarakat. Bahkan juga dunia internasional.