Karakter Pasar Beras di Sulsel Cederung Oligopsoni, Apa Itu?

Ilustrasi pedagang beras. (foto: bisnisjakarta.co.id)

INFONAWACITA.COM – Karakter pasar khusus untuk komoditas beras di Sulawesi Selatan cenderung kepada oligopsoni. Temuan itu dikemukakan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Makassar.

“Ada berbagai macam pasar, ada monopoli, monopolistik, oligopoli, monopsoni dan oligopsoni. Khusus untuk beras ini, cenderung kepada oligopsoni,” ujar Kepala Perwakilan Daerah (KPD) KPPU Makassar, Ramli Simanjuntak, di Makassar, Sabtu (13/1/2018).

Seperti laporan Antara, Ramli mengatakan, dirinya tidak setuju jika distribusi pasar beras ini dimonopoli. Namun, menurutnya, lebih kepada karakter pasar oligopsoni yang menguntungkan para pedagang.

Ramli menjelaskan, karakter pasar oligopsoni di lapangan ini memperlihatkan kecenderungan penjual lebih diuntungkan daripada pembeli. Karena, masih menurut Ramli, satu penjual bisa berpindah dari pembeli satu ke yang lainnya.

Panjangnya rantai distribusi ini kemudian membuat para pedagang beras mencari pilihan untuk membeli beras sesuai dengan harga yang diinginkan para pedagang.

“Rantai distribusi yang panjang yang membuat semua kacau. Siapa yang diuntungkan? Yah, banyak yang masuk dalam rantai distribusi ini, sedangkan user sama petaninya tidak mendapatkan untung besar,” katanya.

Potong rantai distribusi

Dari pemantauan hasil sidaknya juga di beberapa pedagang besar di kawasan utara kota Makassar, ia menemukan adanya kenaikan harga beras dikarenakan beras yang dibelinya juga dari para pengumpul dinaikkan.

“Di tingkat bawah saja, antara pedagang yang satu dan lainnya itu tidak sama dalam penentuan harga, meskipun harganya beda sedikit sekali. Itu karena pembeli yang banyak sehingga ada pilihan kalau mau membandingkan harga,” jelasnya.

Menurut dia, satu hal yang perlu dibenahi adalah dengan memotong rantai distribusi yang dianggapnya cukup panjang sehingga banyak pihak yang diuntungkan dalam skema ini.

“Ini setelah saya tiga tahun bertugas di wilayah Sulawesi Selatan dan saya sudah menyusuri semuanya, mulai dari tingkat petani, pengumpul, pedagang kecil, sedang dan besar hingga ke penjual. Jadi, lama saya lakukan investigasi dan hasilnya memang mencengankan, rantai distribusi harus dipotong,” jelasnya. (*)