Kabar Kurang Sedap Dari Asmat, Pemerintah Justru Ungkap Fakta Ini

Presiden Jokowi dalam kunjungannya ke Papua. (Foto: ksp)

INFONAWACITA.COM – Fokus pemerintah kepada masyarakat, rasanya tidak setengah-setengah. Ini terbukti dengan gerak cepat yang langsung dilakukan. Terkait dengan adanya laporan mengenai paparan gizi buruk dan campak di Asmat, Papua.

Melansir Harian Kompas, sebanyak 24 anak meninggal akibat kejadian luar biasa (KLB) campak disertai gizi buruk di Asmat dalam empat bulan terakhir. Jumlah itu juga masih terus didata oleh Pemerintah Kabupaten Asmat dan berpotensi bisa bertambah. Sementara 12 balita tengah dirawat di Rumah Sakit Agats. Dengan kondisi kurus dan kesehatannya labil.

Korban meninggal dunia berasal dari Kampung Kapi sebanyak delapan orang. Dari Kampung As dan Kampung Atat ada 15 orang anak. Satu anak meninggal di Rumah Sakit Agats karena terlambat mendapat penanganan medis.

Presiden Joko Widodo menanggapi serius laporan itu. Bukan itu saja. Tim khusus juga sudah terjun ke lokasi terjadinya gizi buruk massal itu.

“Sudah. September masuk ke sana,” ungkap Jokowi, usai menyaksikan pertandingan sepakbola Indonesia melawan Islandia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (14/01) malam.

Kendala yang Dihadapi

Saat memberikan keterangan, Kepala Negara juga berbincang dengan Menteri Kesehatan Nila Moeloek. Jokowi kembali menyatakan, medan yang berat menjadi kendala sehingga menyulitkan akses ke titik terjadinya peristiwa.

“Tapi sekali lagi memang sudah kirim makanan tambahan. Tapi memang medan ke sana sangat-sangat sulit,” jelas Jokowi.

Jokowi mencontohkan akses ke Kabupaten Nduga, Provinsi Papua. Perlu berhari-hari untuk mencapai daerah Nduga. Sama halnya dengan akses ke Asmat.

Bukan itu saja, ia sendiri juga sudah pernah ke Nduga, Papua. Jarak yang harus ditempuh bisa berhari-hari. Begitu juga akses jalan ke Wamena yang tak kalah sulit.

“Ini sama, Asmat juga sama perjalanannya adalah rawa. Di situ harus naik (perahu-red) boat. Dua sampai tiga jam,” kata Jokowi.

Sementara, biaya naik perahu mesti mengeluarkan biaya Rp2 juta sampai Rp3 juta.

Langkah Kemenkes

Sebagai wakil negara, Kementerian Kesehatan telah melakukan langkah-langkah. Melalui Menteri Nila, sejak September tim Kemenkes telah dikirimkan ke lokasi.
“Sudah dari September semenjak ada campak. Tapi betul, yang Bapak bilang ini (akses menuju lokasi) ini sangat menyulitkan,” kata Menkes Nila Moeloek.

Kini pihak Kementerian Kesehatan akan segera mengirim lagi tim ke Asmat. Pemerintah Daerah setempat juga akan memberikan upaya terbaik mengatasi masalah ini.

“Ini tim dari Menkes sudah mau kirim lagi dan Pemda juga ada rumah sakit. Saya kira penanganannya yang terbaik. Ada di daerah dan untuk memantau serta melihat apa yang dirasakan. Menteri sudah saya perintahkan ada hal-hal yang seperti itu,” tegas Jokowi.

Desak Pemda

Selain menerjunkan tim ke Asmat, Kepala Negara juga memerintahkan pemerintah daerah. Terutama untuk memantau peristiwa yang terjadi di Asmat secara terus-menerus.

“Pemerintah Daerah juga terus harus melihat,” tegas Jokowi.

Di sisi lain, Jokowi juga mengakui, kasus gizi buruk acapkali terjadi di kawasan-kawasan terpencil di Papua.

“Karena ini di daerah di Asmat, di Nduga, itu memang sering kejadian-kejadian penyakit seperti ini,” kata Jokowi.

“Sehingga pemerintah daerah yang selalu memantau, selalu melihat, selalu mengelilingi terus daerah-daerah ini yang diperkirakan terjangkit penyakit atau gizi buruk,” tegas Kepala Negara, seperti dikutip dari detik.com.