Jokowi Terus Dibully Soal Mobil Esemka, Inisiator: Esemka Itu Mahesa, Bikin Mobil Enggak Gampang!

Presiden Jokowi saat membuka Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS 2018). Ia menaiki Mahesa, pengembangan dari mobil Esemka yang kerap menjadi bahan penggiringan opini dan disinformasi penuh tudingan beraroma fitnah. (Foto: beritasatu.com/Danung Arifin)
Presiden Jokowi saat membuka Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS 2018) di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Serpong, Tangerang, Banten, 2 Agustus 2018. Ia menaiki Mahesa, pengembangan dari mobil Esemka yang kerap menjadi bahan penggiringan opini dan disinformasi penuh tudingan beraroma fitnah. (Foto: beritasatu.com/Danung Arifin)

INFONAWACITA.COM – Kegeraman bercampur rasa heran hadir di wajah inisiator mobil Esemka, Sukiyat (63). Ia mengaku geram sekaligus heran dengan masih adanya sebagian pihak yang berusaha menjatuhkan Presiden Jokowi. Bentuknya dengan terus bertanya soal kelanjutan mobil Esemka.

“Jawaban untuk mobil Esemka itu, ya Mahesa, kok Pak Jokowi dionyo-onyo (dicemooh-red) terus ‘mana Esemka, mana Esemka’, ya Pak Jokowi enggak tahu,“ ujar Sukiyat.

Mahesa yang merupakan kelanjutan dari Esemka memiliki nama resmi Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes). Bahkan sempat mejeng di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS 2018). Mahesa merupakan terjemahan dari proyek panjang Esemka yang dikenalkan Jokowi saat masih menjadi Walikota Solo.

Mahesa sendiri akan diproduksi sebanyak 25 ribu unit mulai pada Januari 2019 oleh PT Kiat Mahesa Wintor Indonesia (KMWI), perusahaan yang didirikan Sukiyat. Sukiyat menjabat sebagai presiden komisaris di perusahaan yang join dengan PT. Astra International Tbk. tersebut.

Sukiyat mengaku, tak ada campur tangan Jokowi atau pemerintah untuk produksi massal Mahesa ini.

“Saya pas ketemu Pak Jokowi cuma minta, kalau bisa dibantu memasarkan saja,” ujarnya.

Tokh, tambah Sukiyat, Mahesa sendiri dinilai tak memiliki saingan dan segemennya menengah ke bawah.

“Kalau segmennya menengah ke bawah, kan, enggak ada (produsen-red) yang mau menyentuh. Kalau saya buat yang segmen menengah atas nanti perang (dengan produsen otomotif lain-red),” tambahnya.

Bekerjasama dengan PT. Astra International Tbk, menghasilkan dua unit anak pereseroan untuk menopang produksi Mahesa. Yakni PT Kiat Mahesa Wintor Indonesia (KMWI) dan PT Kiat Mahesa Wintor Distributor (KMWD). Pembagian saham perusahaannya yakni 45 persen dikuasasi Sukiyat dan 55 persen dikuasai PT. Astra.

“Pasarnya Mahesa terutama luar pulau Jawa, “ ujarnya, seperti dilansir dari tempo.co.

Presiden Jokowi saat membuka Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS 2018). Ia menaiki Mahesa, pengembangan dari mobil Esemka yang kerap menjadi bahan penggiringan opini dan disinformasi penuh tudingan beraroma fitnah. (Foto: Liputan6.com)
Presiden Jokowi saat membuka Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS 2018) di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Serpong, Tangerang, Banten, 2 Agustus 2018. Ia menaiki Mahesa, pengembangan dari mobil Esemka yang kerap menjadi bahan penggiringan opini dan disinformasi penuh tudingan beraroma fitnah. (Foto: Liputan6.com)

Info Terkait: Soal Mobil Esemka, Cawapres Ma’ruf Amin: Oktober Diluncurkan Dan Produksinya Besar-Besaran

‘Bikin Mobil Enggak Kayak Bikin Anak’

Sukiyat menuturkan, untuk membuat dan memproduksi mobil butuh banyak tahapan dan ada proses jatuh bangun. Produksi tentu juga perlu melihat peluang atau momentum pasar sehingga hasilnya tak sia-sia.

“Esemka itu kan sudah lewat momentumnya, sekarang (proyek-red) lanjutannya dari Esemka yang nyata ya mobil Mahesa ini, yang Januari 2019 sudah diproduksi massal dan diekspor juga ke Bangladesh,” tegas Sukiyat.

Sukiyat menuturkan, kelahiran Mahesa juga mengalami proses hampir sama dengan Esemka. Harus melalui berbagai ujicoba dan prototype, sebelum akhirnya dipatenkan untuk dilepas ke pasar. Ada tiga kali prototype sebelum akhirnya Mahesa resmi diproduksi.

“Jadi bikin mobil itu enggak kayak bikin anak,” ujarnya.

Sukiyat menuturkan, Mahesa ini diproyeksi untuk menyasar pasar masyarakat pedesaan. Dibanderol dengan harga dasar Rp70 juta. Mahesa ini bisa dipasangi sejumlah alat pertanian sesuai kebutuhan dengan harga bervariasi.

“Harapan saya mobil ini bisa meningkatkan produktivitas masyarakat di desa dan menekan urbanisasi,” ujarnya, dilansir dari tempo.co.