Istilah Radikalisme, Kepala BNPT: Hati-Hati Menggunakannya

Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius. (foto: bnpt.go.id)

INFONAWACITA.COM – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT),  Suhardi Alius menyampaikan perlunya berhati-hati dalam menggunakan istilah radikalisme. Menurutnya, istilah itu memiliki makna ganda, makna negatif dan positif.

“Einstein menemukan sesuatu yang juga radikal di bidang pengetahuan. Nah, radikalisme dalam ilmu pengetahuan ini bermakna positif,” ujarnya saat penandatanganan MoU tentang Pencegahan Paham Radikal dan Intoleran di Jakarta, Kamis (19/07/2019).

MoU ini ditandatangani Suhardi bersama dengan Sekjen Kemenag Nur Syam mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy.

Info terkait: Kepala BNPT Ajak Rektor untuk Deteksi Dini Radikalisme Negatif

Sementara dalam hal beragama, Suhardi mendefinisikan radikalisme sebagai anti toleransi, anti NKRI dan menyebarkan takfiri. Tiga hal ini menjadi instrumen untuk mengukur kadar radikalisme seseorang.

Hal senada disampaikan Mendikbud Muhadjir Effendy. “Saya lebih suka menggunakan istilah paham-paham yang berbahaya,” jelasnya.

Muhadjir berharap, MoU ini ditindaklanjuti dengan Perjanjian Kerjasama pada level di bawahnya, seperti dalam pembinaan guru agama di sekolah umum.

Info terkait: Tindakan Terorisme Tidak Didominasi Agama Tertentu, Ini Pemaparan BNPT

“Guru agama bertanggung jawab untuk membina organisasi ekstra siswa seperti Rohis, dan bahkan juga berkewajiban membina keagamaan guru umum,” jelas Muhadjir seperti yang dikutip dari Kemenag.go.id.

Ia kemudian menambahkan bahwa paham berbahaya itu bisa dari agama atau budaya. Segala sesuatu yang berlebihan itu bisa menyebabkan bahaya. (RA/yi)