Intelektual NU: Kasus Ahok Jadi Kemunduran Pluralisme Indonesia

Inteletual Muda Nahdlatul Ulama (NU), Zuhairi Misrawi atau Gus Mis.

INFONAWACITA.COM – Pengamat Politik Zuhairi Misrawi menegaskan penetapan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai tersangka dalam kasus dugaan penodaan agama sebagai kemunduran pluralisme di Indonesia. Sebelum kasus ini, kata Misrawi, agama di Indonesia bukan menjadi masalah yang krusial yang terlihat dari banyaknya rumah ibadah berbeda yang dibangun berdampingan.

“Sangat disayangkan, karena sebenarnya isu agama sebelumnya bukan suatu masalah di negeri ini. Ini bisa dilihat dari bangunan masjid yang berdampingan dengan gereja. Ada juga masjid yang dibangun oleh orang yang beragam Kristen. Inikan bukti bahwa sebelumnya tidak ada masalah agama disini,” kata Direktur Moderate Muslim Society dalam Diskusi Publik di Rumah Lembang, Jakarta, Rabu (18/1).

Menurut Misrawi, isu agama yang mencuat akhir-akhir ini di Indonesia menjadi sorotan dunia internasional yang heran dengan mencuatnya isu agama ini. Misrawi bahkan mengaku sempat dimintai komentar sejumlah media asing terkait kasus penodaan agama yang dialamatkan ke Gubernur Petahana DKI Jakarta.

“Sampai-sampai media asing seperti Reuters menghubungi saya, kenapa hanya sebatas opini keagamaan dari seseorang dapat diperkarakan secara hukum, sedangkan dia tidak membakar rumah ibadah dan sebagainya,” kata Misrawi.

Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) lulusan Universitas Al-Azhar ini menyayangkan para pakar dan tokoh politik yang membenarkan penggunaan politisasi agama sebagai bahan melawan Ahok. Menurut Misrawi, untuk melawan Ahok bukan dengan cara itu, tapi mengkritik program-program yang sudah dibuat Ahok saat memimpin DKI Jakarta

“Sangat disayangkan sekali, teman-teman konsultan politik dan lainnya banyak yang menyerang Ahok memakai isu agama dan bukan mengkritisi program-program Ahok,” kata Misrawi.

Menurut Misrawi, Umat Islam akan mudah menyelesaikan kasus dugaan penodaan agama ini dengan mengembalikan kepada ajaran agama Islam yang merujuk kepada Alquran. “Padahal kalau ini merujuk Alquran, akan sangat sederhana karena ini akan dikembalikan ke Allah. Karena agama itu milik Allah, bukan diserahkan ke pengadilan” kata Misrawi. (DS/AK)