Industri Manufaktur Nasional Butuh 5.000 Ahli Las per Tahun

Ilustrasi (Foto: merdeka.com)

INFONAWACITA.COM – Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) Bandung yang merupakan lembaga penilitian dan pengembangan Kementerian Perindustrian gencar melakukan pendidikan vokasi bidang pengelasan.

Hal ini mengingat dalam setahun industri manufaktur nasional membutuhkan ahli las mencapai 5.000 orang.

“Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan oleh industri manufaktur saat ini, menuntut para tenaga kerja kita untuk menguasai kegiatan pemanufakturan yang dapat mencapai tingkat efektivitas dan efisiensi tinggi, termasuk di bidang pengelasan,” kata Kepala B4T Budi Susanto dalam siaran persnya, Sabtu (11/11), seperti dilansir dari kontan.co.id.

Data Asosiasi Pengelasan Indonesia – Indonesian Welding Society (API-IWS), pembangunan industri manufaktur nasional masih memerlukan sebanyak 5.000 tenaga pengelasan per tahun.

Tingkat kualifikasi yang dibutuhkan, antara lain welding coordinator (welding engineer, welding technologist, welding specialist, welding practitioner), welder, welding inspector (comprehensive, standard, basic), dan nondestructive testing (NDT) personnel.

“Untuk jabatan welding inspector dan NDT personnel, B4T telah memberikan pelatihan sejak tahun 1976. Dan untuk kualifikasi welding coordinator sejak 1994,” tutur Budi.

Hingga saat ini, melalui pendidikan dan pelatihan vokasi, B4T telah menghasilkan lulusan dengan kualifikasi welding coordinator sebanyak 680 orang, welding inspector sebanyak 2.800 orang, dan NDT sebanyak 1.850 orang.

Budi menyatakan, B4T merupakan salah satu lembaga pendidikan dan pelatihan pengelasan yang telah diakui dan dipercaya sebagai Approved Training Body (ATB) dalam skema International Institute of Welding (IIW) dengan Sertifikat Akreditasi No. ID 001 melalui Indonesian Welding Society – Authorised National Body (IWS-ANB). “Maka, sertifikat yang diberikan kepada peserta diakui secara internasional,“ ungkapnya.

Para lulusan tenaga ahli las dari B4T telah banyak diterima kerja di negara-negara Timur Tengah, Afrika Selatan, Eropa, Amerika Serikat, Malaysia, Brunei, dan Jepang.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara mengapresiasi kinerja B4T dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan vokasi yang profesional dengan kualifikasi diakui tingkat nasional sampai internasional.

”Kami akan selalu meningkatkan kemampuan dari segi kualitas maupun kuantitas untuk memenuhi kebutuhan pengembangan industri nasional dan kemampuan dalam persaingan profesional global,” tuturnya.

Menurut Ngakan, salah satu kunci strategis untuk mendukung percepatan pembangunan industri Indonesia saat ini adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan dan pelatihan vokasi yang mampu menjawab tantangan nasional dan global.(AR)