Imbas Teror terhadap Tokoh Agama, Orang dengan Gangguan Jiwa Dihakimi Massa

INFONAWACITA.COM – Fenomena teror pada tokoh agama yang belakangan marak terjadi ternyata memang menimbulkan kepanikan tersendiri di masyarakat. Bahkan orang dengan gangguan jiwa di Kabupaten Pandeglang pun harus menjadi korban karena dituduh sebagai PKI.

Kejadian ini menimpa pria yang mengalami gangguan jiwa bernama Wahyudin Firmansyah. Ia diamuk massa karena dituduh PKI.

“Isunya itu macam-macam, ada teroris lah, ada PKI lah. Ini orang gila ditanya, ‘kamu PKI ga?’ Ya namanya orang gila, dia kan (jawab) iya saja,” kata Kabid Humas Polda Banten, AKBP Zaenudin seperti dikutip dari Tirto.id, Rabu (14/2/2018).

Kecurigaan warga berasal dari gerak-gerik Wahyudin yang selama 3 hari mondar-mandir di sekitaran kediaman KH Encep Muhaemin di Kelurahan Sukaratu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Warga pun menyergap Wahyudin dan menuduh ia sebagai PKI. Zaenudin menduga tuduhan PKI yang ditujukan ke Wahyudin dipicu oleh pakaiannya, yakni baju dan celana serba merah. Informasi itu berdasar video yang merekam kejadiaan saat massa mengeroyok Wahyudin.

“Saya rasa itu enggak cuma di sini (Banten), tapi di seluruh Indonesia. Gara-gara ada tokoh agama diserang, isunya jadi liar. Ya itu nanti Mabes Polri lah yang memberikan arahan pencegahan,” ujarnya.

Wahyudin memang tercatat sebagai pasien penyakit rumah sakit jiwa Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa (PSBLHS) 2, Cipayung, Jakarta Timur.

Wahyudin yang berumur 28 tahun pada 2018 sudah pernah menjadi warga binaan sosial di PSBLHS 1 sebelum dipindahkan ke PSBLHS 2, pada 27 Januari 2017. Dia dipindahkan bersama 24 warga binaan lainnya.

Zaenudin mengatakan Wahyudin meninggalkan PSBLHS 2 tanpa keterangan, sejak 19 September 2017. Pihak Dinas Sosial DKI Jakarta juga sudah mengeluarkan surat keterangan terkait hilangnya Wahyudin.

Efek Pemberitaan Kekerasan Tokoh Agama

Kurang dari 2 bulan ini kasus penganiayaan terhadap tokoh agama memang menjadi kekhawatiran di masyarakat. Kekhawatiran masyarakat ini timbul dari pemberitaan kekerasan pada beberapa tokoh agama. Misalnya saja kasus penganiayaan yang menimpa seorang kiai di Jawa Barat dan kasus teror saat ibadah misa di salah satu gereja di Sleman, Yogyakarta.

Koordinator Jaringan Gusdurian Alissa Wahid pun meminta pemerintah untuk tidak memandang sebelah mata kasus-kasus ini. Menurut Alissa secara tidak langsung kasus ini dapat menimbulkan efek berantai di masyarakat. Misalnya saja kekerasan-kekerasan seperti ini dapat memicu ketegangan antarumat beragama.

“Kita meyayangkan dan mengecam kekerasan yang terjadi Gereja Santa Lidwina. Hal itu memicu ketegangan antarumat beragama. Kalau ada yang bilang itu tidak berpengaruh, tidak menggangu, kita bilang pasti ada pengaruhnya,” jelas Alissa seperti dikutip dari Nuonline.or.id pada Selasa (13/2/2018).

Apalagi jelas Alissa kejadian ini muncul di saat menjelang tahun politik 2019. “Ini bukan kriminal biasa, ada pola mengganggu yang tidak masuk akal. Sasarannya sama: pemuka agama,” tuturnya.

Pada Senin (12/2/2018) lalu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengimbau agar masyarakat tidak berspekulasi macam-macam mengenai kemunculan sejumlah kasus penyerangan dengan sasaran tokoh agama

“Jangan berspekulasi masing-masing dengan versi masing-masing yang tidak jelas, jangan mau juga isu ini dimanfaatkan untuk mengadu domba antarelemen masyarakat kita,” kata Tito di Polda Metro Jaya, Jakarta. (tirto/nu/DS/yi)