IDAI: Oknum Masyarakat Tolak Imunisasi Tidak Didukung Penelitian yang Sahih

Seorang anak diberi vaksin polio di Jakarta, Kamis (17/3). Meski Pekan Imunisasi Nasional (PIN) 2016 sudah berakhir pada 15 Maret lalu, namun sejumlah wilayah di Indonesia masih melayani pemberian vaksin polio secara gratis yang bertujuan untuk memperkuat imunisasi rutin dan menutup kesenjangan imunitas akibat masih adanya daerah dengan cakupan imunisasi rutin yang rendah. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/kye/16

INFONAWACITA.COM – Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Soedjatmiko menjelaskan sejumlah oknum masyarakat yang melakukan gerakan antivaksin kebanyakan tidak memahami dengan benar tentang vaksin itu sendiri.

Soedjatmiko tidak menampik bahwa ada beberapa tenaga medis yang menolak vaksinasi dan termasuk dalam gerakan antivaksin.

Dia mengatakan bahwa para tenaga medis tersebut bukanlah praktisi yang biasa melakukan imunisasi pada anak.

Menurut Soedjatmiko berbagai isu tentang penolakan vaksin yang mengaitkan dengan akibat negatif dari imunisasi tidak berdasar pada penelitian dan bukti.

“Semuanya tidak didukung dengan penelitian yang ‘shahih’, hanya berdasar asumsi-asumsi,” kata dia di Jakarta, Jumat (12/1).

Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri yang terjadi pada 2017 di 170 kabupaten-kota dalam 30 provinsi dinilai terjadi karena beberapa faktor seperti cakupan imunisasi yang menurun dan juga adanya gerakan antivaksin di masyarakat.

Menurunnya cakupan imunisasi di masyarakat yang kurang dari 80 persen akan sangat memengaruhi penurunan kekebalan kelompok dan membuat kuman difteri bisa berkembang.

Pencegahan Penyakit

Soedjatmiko menyampaikan seluruh negara di dunia melakukan imunisasi rutin dalam hal pencegahan berbagai penyakit.

“Seluruh dunia lakukan imunisasi rutin. Kalau seluruh dunia melakukan, berarti aman dan bermanfaat,” kata Soedjatmiko.

Dia juga menjelaskan bahwa vaksin yang diproduksi oleh PT Bio Farma telah diekspor ke 136 negara, termasuk di antaranya negara-negara Islam.

“Kalau vaksin berbahaya, tidak mungkin 136 negara menggunakan vaksin Bio Farma,” jelas dia.

Selain itu, Soedjatmiko juga mengatakan sebanyak 220 ribu bidan di Indonesia memberikan imunisasi kepada anak dan tidak ada laporan yang bermasalah. (ANT/HG)