FSGI Harap Kematian Amel Tidak Terulang

foto: istimewa

INFONAWACITA.COM – Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) meminta tidak ada lagi korban selain Amelya Nasution yang bunuh diri karena tak tahan diintimidasi oknum guru.

Intimidasi yang dilakukan oleh oknum guru setelah Amel diduga melakukan kecurangan mengunggah soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) di media sosial.

Amelya Nasution, siswa SMKN 3 Padang Sidempuan, Sumatera Utara, bunuh diri menenggak racun tanaman setelah dipanggil guru sekolahnya.

Oknum guru tersebut mengintimidasi Amelya dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman empat tahun dan denda Rp750 juta.

“Kami meminta agar tak ada lagi korban selain Amelya,” ujar Sekjen FSGI, Retno Listyarti, di Jakarta, Kamis (13/4).

Retno mengatakan keluarga Amelya Nasution telah melapor ke polisi terkait kematian Amel yang diduga karena ketakutan setelah dipanggil tiga oknum guru SMKN 3 Padang Sidempuan, hingga memutuskan mengakhiri hidupnya dengan meminum racun tanaman.

Sementara, dua teman Amel yaitu IR dan R menjadi saksi pelapor dari pengaduan keluarga Amel ke polisi dan keduanya sudah memberikan keterangan atau sudah di BAP.

“Menurut informasi, sejak kematian Amel, ketiga guru yang diduga melakukan intimidasi karena status media sosiak Amel dan dua kawannya terkait kebocoran jawaban USBN di sekolahnya, sudah tidak terlihat hadir di sekolah,” papar dia.

Retno juga menilai bahwa ada upaya dari pihak tertentu yang mengaburkan fakta Amel bunuh diri bukan karena di intimidasi gurunya, tetapi masalah pacaran dan masalah keluarga.

Warga sekitar dan teman-teman Amel tahu bahwa Amel tidak punya pacar.

“Kematian Amel tak ada kaitannya dengan kebocoran Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), melainkan USBN,” papar Retno.

Retno mengatakan Amel sudah tidak bisa mengikuti UNBK, karena saat UNBK berlangsung Amel sedang di rawat di RSUD Padang Sidempuan. Setelah menjalani perawatan selama sembilan hari, Amel meninggal dunia.

UNBK Susulan

UNBK susulan yang seharusnya diikuti Amel berlangsung 18-19 April 2017, tetapi Amel sudah meninggal dunia jauh sebelum ujian susulan tersebut dilaksanakan.

“Bahwa Inspektorat Kemdikbud sedang diturunkan ke Padang Sidempuan untuk mencari keterangan, namun Kadisdik sudah sangat yakin dengan bukti-bukti bahwa Amel meninggal karena permasalahan keluarga.” kata Retno

Tim Kadisdik diduga kuat belum meminta keterangan keluarga korban dan dua saksi lain temannya Amel yaitu I dan R, tetapi sudah memvonis bahwa latar belakang kematian Amel bukan karena masalah kebocoran USBN di sekolahnya yang diunggah dan dikoment Amel dengan dua rekannya tersebut. (HG)