Dirut PT KAI Diganti, Sosok Jonan Dirindukan?

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Edi Sukmoro menginpeksi gerbong kereta api (KA) Kamandaka rute Semarang-Purwokerto di Stasiun Tawang, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (16/3). Inspeksi tersebut dilakukan untuk mengecek persiapan sarana dan prasarana PT KAI dalam menghadapi musim mudik yang akan berlangsung pada Juni mendatang. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww/17.

INFONAWACITA.COM – Bergantinya Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Edi Sukmoro yang tidak lagi menjabat sebagai pucuk pimpinan di KAI karena masa jabatannya telah habis terhitung mulai 11 Januari 2018.

Posisi Direktur Utama dijabat sementara oleh Budi Noviantoro yang kini juga menjabat sebagai Direktur Logistik dan Pengembangan KAI.

Ketua Umum Teknologi dan Inovasi Perkeretapian Indonesia Taufik Hidayat menganggap selama PT KAI dijabat Edi terdapat serangkaian prestasi.

“Prestasi dirut KAI yg lama, Edy Sukmoro adalah berhasil tetap mempertahankan tingkat kecelakaan yg relatif rendah yg diwariskan oleh Jonan,” kata Taufik kepada Infonawacita.com di Jakarta, Jumat (12/1/2018).

Tetapi dari sisi pelayanan, kata Taufik, tampak Edy kurang berhasil mempertahankan pencapaian Jonan.

Sedangkan sosok Budi, menurut Taufik merupakan orang dalam PT KAI. Dia berpengalaman memimpin pembangunan prasarana, antara lain double track (Jalur Gandar) Jakarta-Cikampek.

Sebelumnya dia juga pernah memimpin anak perusahaan KAI, yaitu sebagai Dirut PT KA Logistik dan Kadivre Sumsel, sebelum diangkat menjadi Direktur Logistik.

“Budi harus mampu menunjukkan bahwa sebagai orang dalam, dia pantas menyandang jabatan sebagai PLT atau bahkan sebagai dirut definitif KAI. Penguasaan teknis perkeretaapian tentu tidak diragukan, namun dari sisi pelayanan, dia harus membuktikan bahwa orang dalam juga mampu memberikan optimisme kepada pelanggan KAI, khususnya mengutamakan kebutuhan pelanggan dan mengarahkan semua sumber internal guna memberikan kepuasan kepada pelanggan KAI,” katanya, menerangkan.

Selain itu kata Taufik, Budi harus konsolidasi ke dalam, sebab inti utama kelancaran operasional kereta api adalah kekompakan dari semua unit kerja terkait, baik komersial, sarana, prasarana, operasi, pelayanan, dan lain-lain.

Ignasius Jonan Dirindukan

Di sisi lain secara terpisah pengamat perkeretapian nasional, Bagus Widyanto merasa pesimistis dengan pergantian tersebut.

Bahkan dirinya berani membandingkan PT KAI saat dipimpin Ignasius Jonan dan setelahnya.

“Saya sih tidak berharap banyak, saya rasa tidak akan beda dengan pendahulunya, tidak bakal jadi figur revolusioner kayak pak Jonan, apalagi cuman pejabat sementara,” tambahnya.

Taufik menambahkan karena Jonan itu integritasnya tinggi, dia memberi teladan yang baik.

“Dia memerintahkan sesuatu, tapi dia yang paling duluan melaksanakan, fokus kepada kebutuhan pelanggan,” katanya.

Jonan memberi hukuman kalau ada yang melanggar, misalnya mencopot jabatan seseorang, tapi begitu mantan pejabat yang dihukum itu sudah menunjukkan kinerja baik, Jonan akan segera mempromosikannya kembali.

“Jonan juga dekat dengan pegawai, bahkan pegawai yang paling bawah sekalipun. Jonan berhasil mengubah KAI yang semula nyaris tidak ada lagi yang berharap KAI akan mampu berubah menjadi lebih baik karena kecelakaan yang begitu tinggi dan pelayanan yang begitu buruk, di tangan dingin Jonan semuanya menjadi berubah jauh lebih baik,” katanya. (HG)