Diana Sudah Pulang ke ‘Rumah’

Ilustrasi Orangutan. (Foto: WWF).

INFONAWACITA.COM – Bertepatan dengan Hari Ibu 2017 kemarin, Diana pulang ke rumahnya di hutan. Ia merupakan orangutan betina berumur 9 tahun. Ia juga baru saja usai menjalani rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Orangutan di Batumbelin, Sibolangit, Sumatera Utara, selama dua tahun. Pelepasliaran ini, dilakukan di Pusat Reintroduksi Orangutan Sumatera. Tepatnya di Taman Wisata Alam atau Cagar Alam Jantho, Aceh Besar, Provinsi Aceh.

“Program reintroduksi orangutan sebagaimana di Jantho ini merupakan program yang sangat penting dan harus didukung, untuk meliarkan kembali orangutan sumatera yang sempat dipelihara masyarakat,” kata Direktur Kawasan Konservasi Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Suyatno Sukandar.

Menurut dia, konservasi memiliki “tugas sakral” yang tidak hanya untuk melestarikan satwa liar. Tapi juga untuk kepentingan masa depan umat manusia.

“Untuk itu, upaya penyadartahuan masyarakat untuk terlibat dalam upaya konservasi sumberdaya alam hayati, harus terus dilakukan,” ujar dia seperti dikutip dari Antara pada Minggu (24/12).

Suyatno kembali mengatakan, masyarakat tidak seharusnya memelihara satwa liar dilindungi. Selain karena melanggar undang-undang, juga akan mengancam kelestarian satwa tersebut. Sebagaimana yang terjadi pada orangutan.

Diana

Diana merupakan salah satu orangutan sitaan dari Aceh Besar pada 2015 yang lalu. Kini telah melewati proses rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Orangutan di Batumbelin, Sibolangit, Sumatera Utara.

Sementara kawasan TWA atau CA Jantho merupakan bagian Ekosistem Laumasen. Kawasan ini tersambung dengan Hutan Lindung Panca dan Tangse. Habitat ini sangat ideal untuk orangutan sumatera (Pongo abelii). Dengan daya dukung cukup besar, sehingga layak untuk hidup ratusan bahkan ribuan orangutan.

Sejak dioperasikan pertama kali pada 2010 yang lalu, sudah ada 102 individu yang dilepasliarkan di Jantho. Dengan tingkat keberhasilan 90 persen. Bahkan dari orangutan Sumatera yang dilepasliarkan, telah berkembang biak sekurangnya dua individu pada 2017.

Ilustrasi Orangutan. (foto: Anup Shah/WWF).
Pentingnya Orangutan Bagi Ekosistem

Apa arti penting orangutan bagi ekosistem. Khususnya di Indonesia?

“Orang suka salah. Orang kerap menyatakan bahwa menyelamatkan orang utan itu karena cute. Dia sayang, cinta. Bukan persoalan itu. Orangutan diciptakan Tuhan di hutan itu untuk menyebar biji. Ketika tidur, dia buka kanopi. Hasilnya matahari bisa masuk ke hutan. Biji yang dia sebar itu, tumbuh jadi pohon,” tutur CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Dr Jamartin Sihite.

Biji-biji bakal pohon yang disebar orangutan itu, imbuhnya, nantinya akan menjadi pohon yang menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen.

“Dan membuat hutan itu bisa bagus, mengatur tata air. Sehingga manusia bisa dapat air bersih. Ada nggak manusia bisa hidup tanpa oksigen dan air? Nggak ada, kan?,” tukasnya.

Untuk tetap menjaga orangutan, hutan haruslah tetap ada. Hutan hilang, maka orangutan juga kehilangan fungsinya.

“Ketika kita menyelamatkan orangutan itu sebenarnya kita menyelamatkan diri sendiri. Ada hal besar yang kita selamatkan. Karena apa? Orangutan itu fungsinya di hutan,” tutur Jamartin.

Bila orangutan dikandangkan di habitat yang bukan habitatnya, maka orangutan tak bisa berfungsi dengan baik.

“Jadi kalau orangutan itu ditaruh di rumah, di kandang, nggak berfungsi dia dengan baik. Makannya kembalikan dia ke hutan agar fungsinya dia di alam yang ditetapkan Tuhan itu berjalan,” paparnya.