Dewan Energi Nasional: Alutista TNI Belum Siap Dengan Program B20

foto: aktual.com

INFONAWACITA.COM – Dewan Energi Nasional (DEN) menjelaskan bahwa program B20 atau penggunaan bahan bakar yang dicampurkan dengan minyak organik masih memiliki kendala untuk penyesuaian dengan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

“Biodiesel B20 masih ada kendalanya untuk kendaraan alat berat, bahkan masih ada keberatan pada alusista dan lokomotif untuk menerapkan B20 serta menggunakan ke b30 pada tahun 2030 perlu dikaji lagi agar tidak menimbulkan dampak yg ada,” kata Anggota DEN Syamsir Abduh di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Kamis (12/10).

Syamsir lebih lanjut menjelaskan bahwa alutsista menjadi fokus tersendiri sebab memiliki teknis penggunaan mesin yang lebih komplek.

Apabila solar dicampurkan dengan minyak nabati seperti sawit dalam sistem filter mesin dikhawatirkan akan memunculkan kerak.

Akibatnya mesin menjadi tidak bekerja maksimal hingga menyebabkan mogok atau berhenti berjalan.

“Kalau alat perang kan tidak boleh mogok, bisa gawat nanti pas di medan tempur, oleh karena itu masih membutuhkan kajian lagi lebih luas penggunaannya,” katanya.

Syamsir juga menjelaskan ada kemungkinan program penerapan B20 mengalami kemunduran namun itu masih dalam tahap pembicaraan. DEN masih mengharapkan kajian berjalan sesuai target perencanaan yaitu 2020.

Mesin Dengan Teknologi Lama

Sebelumnya, program B20 atau kewajiban pemakaian biodiesel sebanyak 20 persen pada jenis kendaraan Bahan Bakar Minyak (BBM) solar juga terdapat kendala pada pemakaian mesin penggerak jenis lama. Diantaranya pengimplementasian pada lokomotif.

Kendala lainnya adalah, apabila mesin lama dipaksakan penggunaan biodiesel maka akan kehilangan garansi dari pabrikan produksinya, sehingga dianggap masih merugikan pengguna.

Program B20 yang dilaksanakan melalui Kementerian ESDM sebagai solusi energi terbarukan tersebut telah menyerap 2,7 juta kiloliter (KL) biodiesel sawit sepanjang 2016.

Program B20 biodiesel merupakan kewajiban mencampur 20 persen biodiesel sawit pada setiap minyak diesel (solar) yang dijual.

Pada 2016 juga dinilai telah memberikan manfaat besar dalam bentuk pengurangan emisi gas rumah kaca sekira 4,5 juta ton CO2e, pemanfaatan bahan bakar nabati berbasis produk dalam negeri 45,5 ribu barel per hari.

Manfaat selanjutnya adalah menciptakan nilai tambah industri Rp4,4 triliun, penyerapan tenaga kerja 385 ribu orang, serta penghematan devisa dan pengurangan ketergantungan bahan bakar fosil senilai 1,1 miliar dolar AS atau setara Rp14,8 triliun. (ANT/HG)