Demi Rupiah, Jawa Timur Rich People Lepas US$50 Juta

Konglomerat Jawa Timur lepas dolar (foto: Humas KSP)

INFONAWACITA.COM – Demi kuatkan lagi nilai rupiah terhadap dolar, para konglomerat Jawa Timur rela melepas US$50 Juta-nya. Mereka yang tergabung dalam Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (FORKAS) Jawa Timur itu hanya butuh waktu dua hari untuk mengumpulkan uang tersebut.

Upaya spontan ini tentu saja patut mendapat apresiasi. Termasuk dari Kepala Staf Kepresidenan Jend. TNI (Purn.) Dr. Moeldoko. “Saya memberi apresiasi pada rekan-rekan Forkas di Jawa Timur. Dengan kesadarannya muncul gerakan yang positif, menginspirasi, dan memotivasi bagi daerah lain,” tandasnya dihadapan 150 orang yang mewakili 38 asosiasi pengusaha di Jawa Timur seperti termuat dalam keterangan resmi yang diterima Jumat (21/9/2018).

“Kami membulatkan tekad dan menggugah semangat, karena pelemahan ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus,” kata Ketua Forkas Jawa Timur Nur Cahyudi dalam acara berjuluk Bersatu Menguatkan Rupiah dengan penukaran dolar ke rupiah secara simbolis di Hotel Majapahit Surabaya.

Nur juga menyampaikan komitmen para pengusaha untuk mengurangi impor bahan baku dan bahan penunjang. Serta menggencarkan pemakaian produk dalam negeri. Dengan demikian impor makin kecil, dan sebaliknya ekspor semakin besar.

Sementara itu Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Jawa Timur Difi Ahmad Djohansyah memuji langkah para pengusaha ini. “Ini satu hal yang menunjukkan patriotisme. Nilai US$50 juta cukup besar untuk menstabilkan rupiah,” ungkapnya.

Belakangan rupiah memang sempat melemah terhadap dolar. Bahkan nilainya hampir mencapai Rp15 ribu per dolar AS. Penyebab utama pelemahan Rupiah adalah ekspektasi percepatan normalisasi kebijakan moneter AS dan kebijakan fiskal ekspansif AS yang membuat defisit APBN AS melebar.

Artinya, AS akan menjual obligasi lebih banyak, menawarkan suku bunga lebih tinggi, dan membuat global capital flows masuk ke AS. Hal lain adalah krisis di Turki dan Argentina yang mempengaruhi kepercayaan pasar terhadap emerging markets serta depresiasi Yuan akibat perang dagang AS-China. (DS/zh)