Cawapres Ma’ruf Amin Jelaskan Alasan dan Maksud Ucapannya di Mekkah

Presiden Jokowi bersama KH Ma'aruf Amin (tengah) dan sesepuh Nahdlatul Ulama KH Maimun Zubair menuju lokasi zikir kebangsaan di halaman Istana Merdeka, Jakarta, 1 Agustus 2018. (BPMI)
Presiden Jokowi bersama KH Ma'aruf Amin (tengah) dan sesepuh Nahdlatul Ulama KH Maimun Zubair menuju lokasi zikir kebangsaan di halaman Istana Merdeka, Jakarta, 1 Agustus 2018. (BPMI)

INFONAWACITA.COM – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin menjelaskan kesediaannya menjadi Calon Wakil Presiden (Cawapres) mendampingi Joko Widodo. Menurutnya, itu merupakan tanggung jawab seorang kader NU untuk mengabdi terhadap bangsa dan negara Indonesia.

“Rais Aam harus menerima itu sebagai pengabdian Nahdlatul Ulama kepada bangsa dan negara,” kata Kiai Ma’ruf pada pertemuan cabang NU sedunia di Hotel Wihdah Towe Makkah, Arab Saudi, Sabtu (18/8/2018).

Sebagai kader, ia mengaku taat kepada NU. PBNU menyepakati dan siap mendukung siapa saja kader NU yang dipilih Jokowi menjadi Cawapres. Termasuk apabila Rais Aam PBNU yang dipilih maka ia pun menerima dan mengaku tidak berani menolak.

“Termasuk apabila yang diminta Rais Aam sendiri, karena kita ingin memberikan yang terbaik buat bangsa dan negara,” ucapnya, seperti dikutip dari NU Online.

Kiai Ma’ruf sendiri menolak anggapan bahwa kesediaanya menerima pinangan Jokowi akan berakibat status Rais ‘Aam menjadi turun pangkat. Menurutnya, penerimaannya didasarkan pada kesepakatan PBNU yang siap memberikan kader terbaiknya untuk bangsa dan negara.

“Inilah komitmen NU terhadap bangsa dan negara,” jelas Kiai yang mendapat gelar sebagai Guru Besar bidang Ilmu Ekonomi Muamalat Syariah di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang itu.

Hadir pada pertemuan itu, Mustasyar PBNU TGH Turmudzi Badaruddin, KH Yahya Cholil Staquf, Menteri Agama H Lukman Hakim Saefudin dan 36 Pengurus Cabang NU sedunia.